Terbit Tahun 1874 di Batavia, Buku Bahasa Bali Pertama tapi Beraksara Jawa

img_0189-copy

img_0191

KETIKA mencari-cari buku-buku pelajaran yang digunakan di sekolah-sekolah pada zaman kolonial Belanda di Bali, saya mendapatkan buku Balineesch Spelboekje (pelajaran aksara Bali) di Perpustakaan KITLV Leiden. Buku pelajaran sekolah ini dikarang oleh I Ranta, terbit di Batavia (Jakarta), tahun 1874. Naskahnya sendiri selesai ditulis dua tahun sebelumnya, yakni bulan Desember tahun 1872. Karena usianya di atas 100 tahun, Balineesch Spelboekje ini hanya bisa dibaca di ruang perpustakaan, tidak boleh dibawa ke luar. Peraturan ini berlaku untuk semua buku langka, yang usianya di atas 100 tahun. Buku itu dirawat dengan baik oleh KITLV, buktinya bukunya dijilid ulang, kulitnya diganti dengan karton.

Dalam perpustakaan pribadi Dr. Hedi Hinzler di Leiden, saya juga menemukan buku yang sama. Barulah saya tahu warna kulit aslinya: hijau gelap. Kulit di depan bertuliskan aksara Jawa, di kulit belakang ditulis dengan huruf Latin (lihat foto).Benarkah ini buku pertama? Menurut keterangan C. Lekkerkerker dalam bibliografi Bali-Lombok yang ditulisnya tahun 1920 (halaman 3), buku karya I Ranta ini memang merupakan buku bahasa Bali pertama.Hedi Hinzler dalam tulisannya Balinese palm-leaf manuscripts” (1993) juga menegaskan bahwa karya I Ranta adalah buku pelajaran aksara Bali yang terbit pertama. Sampai akhir abad ke-19, sebelum buku I Ranta muncul, belum ada buku ihwal uger-uger aksara Bali .

Sekolah modern pertama di Singaraja berdiri 1875 (Putra Agung 1969:2), bisa jadi buku ini memang disiapkan untuk memenuhi kebutuhan materi pelajaran sekolah modern model Belanda itu. Kebijakan kolonial Belanda waktu itu mewajibkan penggunaan lokal–daerah sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah daerah provinsi. Bahasa Melayu sebagai alternatif jika bahasa daerah tidak ada atau tidak mungkin dipakai.Di Bali, jelas bahasa Bali dijadikan bahasa pengantar dan sebagai mata pelajaran yang diajarkan. Dalam kondisi seperti itu, buku I Ranta Balineesch Spelboekje tentulah merupakan buku utama.

Siapakah I Ranta? Ada sedikit sekali keterangan tentang I Ranta. Informasi dirinya bisa dipetik di kulit depan buku yang bertuliskan: pakardin tityang wong kari wimuda, I Ranta, samuruk ring panagara Bandung (karya saya yang masih muda, I Ranta, bersekeloh di Bandung ). Lekkerkerker juga menyebutkan bahwa I Ranta bersekolah sekolah guru di Bandung

Selain itu, tidak banyak ada informasi tentang I Ranta. Bagaimana dia sampai “terdampar” di sekolah guru di Bandung tidak jelas adanya.

Yang jelas tahun 1908, Ranta kembali menerbitkan buku, judulnya Balineesch leesboekje (pelajaran bahasa Bali) diterbitkan di Batavia oleh Landsdrukkerij, sama dengan penerbit bukunya yang pertama. Dalam buku ini ditulis bahwa Ranta masih sekolah di Bandung . Buku ini selesai ditulis 1905, dalam huruf Bali . Isinya bukan pelajaran aksara, tetapi bacaan cerita (satua) sebanyak 24 judul. Beberapa cerita seperti “Pan Balang Tamak” sudah dimuat dalam buku pertama.

Kalau buku pertama ditulis sendiri tanpa bantuan, untuk buku kedua I Ranta mendapat bantuan koreksi (diperbaiki oleh) dari Mas Niti Sastro, seorang kepala sekolah di Singaraja yang berasal dari Jawa, kemungkinan besar dari Malang.

Buku kedua sudah menggunakan huruf Bali , bukan huruf Jawa seperti buku pertama.

 Mengapa Huruf Jawa?

 Jawabannya kemungkinan besar pada tahun 1870-an belum ada alat percetakan huruf Bali . Rupanya perangkat cetak huruf Bali baru tersedia 23 tahun kemudiannya, seperti terlihat dari penggunaannya dalam kamus bahasa Kawi-Bali-Belanda mahakarya Van der Tuuk yang terbit tahun 1897.

Bukan buku Bali saja yang tertulis dalam huruf Jawa, buku Sunda juga demikian adanya. Buku-buku berbahasa Sunda yang terbit pertengahan abad ke-19, sekitar 1845/1850 juga ditulis dalam aksara Jawa pada mulanya (Mikihiro Moriyama 2003).

Alasannya tampaknya bukan semata karena absennya alat cetak huruf Sunda, tetapi adanya keinginan untuk menjangkau target pembaca yang lebih luas. Kalau ditulis dalam hurus Jawa diharapkan orang Jawa juga sudi membacanya.

Isi buku

Buku Balineesch Spelboekje hadir dengan 43 halaman. Isi buku ini terdiri dari empat bagian, yaitu anacaraka (aksara), sasanggon (peribahasa/ perumpamaan), patakon (pertanyaan), dan satua (cerita). Bagian aksara berisi pelajaran membaca huruf Bali (Jawa) mulai dari penambahan huruf hidup (a, i, u, e, o), angka, huruf gantungan, gempelan, lalu kruna/kalimat dua dan tiga kata.

Bagian peribahasa atau perumpamaan berisi ungkapan seperti “ada gula ada semut”, mlenyig-mlenyigan tain jaran (tahi kuda halus di luar, di dalam kasar), dan mrebutin balung tanpa isi (berebut tulang tanpa isi). Semua ditulis dalam huruf Jawa. Sebagian besar peribahasa yang ada masih populer sampai sekarang.

Bagian pertanyaan berisi soal seperti ini: cai nawang uli dija sangkane mas, slaka, kekuningan, tembagam prunggu, timah, waja, teken besi? (kamu tahu dari mana asal emas, kuningan, tembaga, prunggu, timah, waja, dan besi?); cai nawang kranan ada ujan? (kamu tahu apa penyebab hujan turun?); kudang dina dadi ataun?(setahun itu berapa hari?). Pertanyaannya agak kasar, dimulai dengan kata “cai” (kamu), mencerminkan besarnya “jarak wibawa” antara guru dan murid.

Bagian cerita, berisi sembilan cerita pendek seperti:I Sugih teken I Tiwas (Si Kaya dan Si Miskin), Pan Balang Tamak, dan Bapa teken Pianakne Muani-muani (Si Ayah dengan Empat Anak Laki-lakinya). Dua certia pertama sudah lumrah di Bali , yang ketiga perlu diringkaskan isinya.

Cerita Bapa teken Pianakne Muani-muani ini mengisahkan tentang perlunya persatuan demi kekuatan. Dikisahkan si Bapa memanggil keempat anak lelakinya, disuruh mematahkan sapu lidi, tak ada yang mampu. Bapanya menjelaskan sapu lidi ini mudah dipatahkan kalau lidinya dilepas satu per satu. Pesannya mirip dengan pepatah “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Ketika menjadi murid SD kelas VI di Padangsambian tahun 1972/73, guru saya rasanya menuturkan kisah tulisan I Ranta ini, suatu tanda karyanya tidak saja berlaku ketika ditulis lebih dari seratus tahun lalu.

Hampir setiap cerita dalam buku I Ranta ini di akhirnya diisi kesimpulan yang menegaskan arti–makna cerita bersangkutan. Maknanya selalu berupa pesan moral.

Buku-buku pelajaran dari era itu, dan juga era selanjtunya sampai sekarang, memang padat dengan pesan moral, nasehat mulia untuk anak, guna menanamkan budi pekerti. Ini sudah pasti, yang belum pasti atau masih misterius adalah siapakah I Ranta? Adakah yang punya informasi?

* Darma Putra

Sumber : http://dasarbali.wordpress.com/2010/10/03/terbit-tahun-1874-di-batavia-buku-bahasa-bali-pertama-tapi-beraksara-jawa/

PENGARUH HINDU BUDHA TERHADAP INDONESIA

PENGARUH HINDU BUDHA TERHADAP INDONESIA

under SEJARAH, SEJARAH KELAS XI
Versi materi oleh Triyono Suwito dan Wawan Darmawan

Kebudayaan merupakan wujud dari peradaban manusia, sebagai hasil akal-budi manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik primer, sekunder, atau tersier. Wujud kebudayaan ini cukup beragam, mencakup wilayah bahasa, adat-istiadat, seni (rupa, sastra, arsitektur), ilmu pengetahuan, dan teknologi. Dan setiap kebudayaan yang lebih maju pasti mendominasi kebudayaan yang berada di bawahnya. Begitu pula kebudayaan India yang dengan mudah diterima masyarakat Indonesia.

Pengaruh Hindu dan Buddha terhadap kehidupan masyarakat Indonesia dalam bidang kebudayaan, berbarengan dengan datangnya pengaruh dalam bidang agama itu sendiri. Pengaruh tersebut dapat berwujud fisik dan nonfisik. Hasil kebudayaan pada masa Hindu-Buddha di Indonesia yang berwujud fisik di antaranya: arca atau patung, candi (kuil), makara, istana, kitab, stupa, tugu yupa, prasasti, lempengan tembaga, senjata perang, dan lain-lain. Sedangkan peninggalan kebudayaan yang bersifat nonfisik di antaranya: bahasa, upacara keagamaan, seni tari, dan karya sastra.

Wilayah India yang cukup banyak memberikan pengaruhnya terhadap Indonesia adalah India Selatan, kawasan yang didiami bangsa Dravida. Ini terbukti dari penemuan candi-candi di India yang hampir menyerupai candi-candi yang ada di Indonesia. Begitu pula jenis aksara yang banyak ditemui pada prasasti di Indonesia, adalah jenis huruf Pallawa yang digunakan oleh orangorang India selatan.

Meskipun budaya India berpengaruh besar, akan tetapi masyarakat Indonesia tidak serta-merta meniru begitu saja kebudayaan tersebut. Dengan kearifan lokal masyarakat Indonesia, budaya dari India diterima melalui proses penyaringan (filtrasi) yang natural. Bila dirasakan cocok maka elemen budaya tersebut akan diambil dan dipadukan dengan budaya setempat, dan bila tak cocok maka budaya itu dilepaskan. Proses akulturasi budaya ini dapat dilihat pada model arsitektur, misalnya, punden berundak (budaya asli Indonesia) pada Candi Sukuh di Jawa Tengah; atau pada dindingdinding

Candi Prambanan yang memuat relief tentang kisah pewayangan yang memuat tokoh Punakawan; yang dalam relief manapun di India takkan ditemui.

1. Praktik Peribadatan
Pengaruh Hindu-Buddha terhadap aktifitas keagamaan di Indonesia tercermin hingga kini. Kalian dapat merasakannya kini di Bali, pulau yang mayoritas penduduknya penganut Hindu. Kehidupan sosial, seni, dan budaya mereka cukup kental dipengaruhi tradisi Hindu. Jenazah seseorang yang telah meninggal biasanya dibakar, lalu abunya ditaburkan ke laut agar “bersatu” kembali dengan alam. Upacara yang disebut ngaben ini memang tidak diterapkan kepada semua umat Bali-Hindu, hanya orang yang mampu secara ekonomi yang melakukan ritual pembakaran mayat (biasa golongan brahmana, bangsawan, dan pedagang kaya).

Selain Bali, masyarakat di kaki Bukit Tengger di Malang, Jawa Timur, pun masih menjalani keyakinan Hindu. Meski sebagian besar masyarakat Indonesia kini bukan penganut Hindu dan Buddha, namun dalam menjalankan praktik keagamaannya masih terdapat unsur-unsur Hindu-Buddha. Bahkan ketika agama Islam dan Kristen makin menguat, pengaruh tersebut tak hilang malah terjaga dan lestari. Beberapa wilayah yang sebelum kedatangan Islam dikuasi oleh Hindu secara kuat, biasanya tidak mampu dihilangkan begitu saja aspek-aspek dari agama sebelumnya tersebut, melainkan malah agama barulah (Islam dan Kristen) mengadopsi beberapa unsur kepercayaan sebelumnya. Gejala ini terlihat dari munculnya beberapa ritual yang merupakan perpaduan antara Hindu-Buddha, Islam, bahkan animisme-dinamisme. Contohnya: ritual Gerebeg Maulud yang setiap tahun diadakan di Yogyakarta, kepercayaan terhadap kuburan yang mampu memberikan rejeki dan pertolongan, kepercayaan terhadap roh-roh, kekuatan alam dan benda keramat seperti keris, patung, cincin, atau gunung.

Ketika Islam masuk ke Indonesia, kebudayaan Hindu- Buddha telah cukup kuat dan mustahil dapat dihilangkan. Yang terjadi kemudian adalah akulturasi antara kedua agama tersebut. Kita bisa melihatnya pada acara kelahiran bayi, tahlilan bagi orang meninggal, dan nadran (ziarah). Acara-acara berperiode seperti tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, tujuh bulanan merupakan praktik kepercayaan yang tak terdapat dalam ajaran Islam atau Kristen.

Perbedaan antara unsur-unsur agama yang berbeda dan bahkan cenderung bertolak belakang itu, bukanlah halangan bagi masyarakat Indonesia untuk menerima dan menyerap ajaran agama baru. Melalui kearifan lokal (local genius) masyarakat Indonesia, agama yang asalnya dari luar (Hindu, Buddha, Islam, Kristen) pada akhirnya diterima sebagai sesuatu yang tidak “asing” lagi. Bila unsur agama tersebut dirasakan cocok dan tak menimbulkan pertentangan dalam masyarakat, maka ia akan disaring terlebih dahulu lalu diambil untuk kemudian dipadukan dengan budaya yang lama; dan bila tak cocok maka unsur tersebut akan dibuang. Dengan demikian, yang lahir adalah agama sinkretisme, yaitu perpaduan antardua unsur agama dan kebudayaan yang berbeda sehingga menghasilkan praktik agama dan kebudayaan baru tanpa mempertentangkan perbedaan tersebut, malah mempertemukan persamaan antarkeduanya. Jelaslah, dari dulu bangsa Indonesia telah mengenal keragaman agama dan budaya (pluralisme) tanpa harus bertengkar.

2. Sistem Pendidikan

Sriwijaya merupakan kerajaan pertama di Indonesia yang telah menaruh perhatian terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan Buddha. Aktifitas pendidikan ini diadakan melalui kerjasama dengan kerajaan-kerajaan di India. Hubungan bilateral dalam bidang pendidikan ini dibuktikan melalui Prasasti Nalanda dan catatan I-Tsing.

Berdasarkan keterangan Prasasti Nalanda yang berada di Nalanda, India Selatan, terdapat banyak pelajar dari Sriwijaya yang memperdalam ilmu pengetahuan. Catatan I-Tsing menyebutkan, Sriwijaya merupakan pusat agama Buddha yang cocok sebagai tempat para calon rahib untuk menyiapkan diri belajar Buddha dan tata bahasa Sansekerta sebelum berangkat ke India. Di Sriwijaya, menurut I-Tsing, terdapat guru Buddha yang terkenal, yaitu Sakyakerti yang menulis buku undang-undang berjudul Hastadandasastra. Buku tersebut oleh I-Tsing dialihbahasakan ke dalam bahasa Cina.

Selain Sakyakerti, terdapat pula rahib Buddha ternama di Sriwijaya, yaitu Wajraboddhi yang berasal dari India Selatan, dan Dharmakerti. Menurut seorang penjelajah Buddha dari Tibet bernama Atica, Dharmakerti memiliki tiga orang murid yang terpandang, yaitu Canti, Sri Janamitra, dan Ratnakirti. Atica sempat beberapa lama tinggal di Sriwijaya karena ingin menuntut ilmu Buddha. Ketika itu, agama Buddha klasik hampir lenyap disebabkan aliran Tantra dan agama Islam mulai berkembang di India, sehingga ia memilih pergi ke Sriwijaya untuk belajar agama.

Pada masa berikutnya, hampir di setiap kerajaan terdapat asrama-asrama (mandala) sebagai tempat untuk belajar ilmu keagamaan. Asrama ini biasanya terletak di sekitar komplek candi. Selain belajar ilmu agama, para calon rahib dan biksu belajar pula filsafat, ketatanegaraan, dan kebatinan. Bahkan istilah guru yang digunakan oleh masyarakat Indonesia sekarang berasal dari bahasa Sansekerta, yang artinya “kaum cendikia”.

3. Bahasa dan Sistem Aksara

Bahasa merupakan unsur budaya yang pertama kali diperkenalkan bangsa India kepada masyarakat Indonesia. Bahasalah yang digunakan untuk menjalin komunikasi dalam proses perdagangan antarkedua pihak, tentunya masih dalam taraf lisan. Bahasa yang dipraktikkan pun adalah bahwa Pali, bukan Sansekerta karena kaum pedagang mustahil menggunakan bahasa kitab tersebut.

Bahasa Pali atau Pallawa merupakan aksara turunan dari aksara Brahmi yang dipakai di India selatan dan mengalami kejayaan pada masa Dinasti Pallawa (sekitar Madras, Teluk Benggali) abad ke-4 dan 5 Masehi. Aksara Brahmi juga menurunkan aksara-aksara lain di wilayah India, yaitu Gupta, Siddhamatrka, Pranagari, dan Dewanagari. Aksara Pallawa sendiri kemudian menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dan tertulis pada prasasti-prasasti berbahasa Melayu Kuno zaman Sriwijaya. Istilah pallawa pertama kali dipakai oleh arkeolog Belanda, N.J. Krom; sarjana lain menyebutnya aksara grantha.

Praktik bahasa Sansekerta pertama kali di Indonesia bisa dilacak pada yupa-yupa peninggalan Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Huruf yang dipakai adalah Pallawa. Dikatakan bahwa di kerajaan tersebut terdapat seorang raja bernama Kudungga, memiliki anak yang bernama Aswawarman, dan juga memiliki cucu Mulawarman. Menurut para ahli bahasa, Kudungga dipastikan merupakan nama asli Indonesia, sedangkan Aswawarman dan Mulawarman sudah menggunakan bahasa India. Penggantian nama tersebut biasanya ditandai dengan upacara keagamaan.

Pengaruh agama Hindu dalam aspek bahasa akhirnya menjadi formal dengan munculnya bahasa Jawa dan Melayu Kuno serta bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia yang banyak sekali menyerap bahasa Sansekerta. Beberapa karya sastra Jawa ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dengan cara mengonversikan atau menambahkan (menggubah) karya sastra yang dibuat di India. Selain Sansekerta, bahasa Pali, Tamil, dan Urdu atau Hindustani (digunakan di Pakistan dan sebagain India) pun memperkayai kosakata penduduk Indonesia. Namun, pada perkembangannya Sansekertalah bahasa yang paling berpengaruh dan dipakai hingga kini oleh orang Indonesia. Bahasa Sansekerta merupakan bahasa tulisan. Bahasa ini tertulis dalam prasasti, yupa, kitab suci, kitab undang-undang (hukum), karya sastra. Maka dari kata-katanya dapat lebih abadi dan dipertahankan.

Pengaruh tersebut kemudian dilanjutkan dengan proses penyerapan bunyi. Kadang kita tidak menyadari bahwa bahasa yang kita gunakan tersebut merupakan serapan dari bahasa Sansakerta. Perubahan bunyi pada serapan ini terjadi karena logat dan dialek setiap suku-bangsa berbeda. Makna awalnya pun sebagian telah mengalami perubahan: ada yang meluas dan ada yang menyempit. Namun, adapula beberapa kata yang maknanya belum bergeser, contohnya: tirta berarti air; eka, dwi, tri berarti satu, dua, tiga; kala berarti waktu atau bisa juga bencana.

Berikut ini kata-kata Indonesia serapan dari kata-kata Sansekerta:
(a) sayembara, dari silambara
(b) bentara, dari avantara
(c) harta, dari artha
(d) istimewa, dari astam eva
(e) durhaka, dari drohaka
(f) gembala, dari gopala
(g) karena, dari karana
(h) bahagia, dari bhagya
(i) manusia, dari manusya
10. senantiasa, dari nityasa

Mengenai perkembangan aksara, di Indonesia terdapat beberapa jenis aksara yang merupakan turunan dari aksara Pallawa. Di Jawa ada aksara Kawi, aksara Kawi ini pada perkembangan selanjutnya menurunkan aksara Hanacaraka atau Ajisaka yang digunakan untuk bahasa Jawa, Sunda, dan Bali. Adapula prasasti zaman Mataram di Jawa Tengah bagian selatan yang menggunakan aksara Pranagari yang umurnya lebih tua dari aksara Dewanagari.

Sementara itu, di wilayah Sumatera Utara (dengan dialek Toba, Dairi, Karo, Mandailing, dan Simalungun) ada aksara Batak, sedangkan di daerah Kerinci, Lampung, Pasemah, Serawai, dan Rejang terdapat aksara Rencong. Sementara itu, di daerah Sulawesi bagian selatan ada aksara Bugis dan Makassar. Dari perkembangan aksara-aksara turunan Pallawa, kita dapat memperkirakan wilayah mana saja di Indonesia yang pengaruh budaya Indianya lebih kental, yakni Jawa, Sumatera, dan sebagian Sulawesi. Sedangkan daerah-daerah lainnya di Indonesia tak begitu dipengaruhi budaya
India, bahkan ada daerah yang sama sekali tak tersentuh budaya Hindu-Buddhanya.

Mengenai aksara Hanacaraka, terdapat sebuah legenda yang berkaitan dengan nama Ajisaka. Ajisaka merupakan cerita rakyat yang berkembang secara lisan, terutama hidup di masyarakat Jawa dan Bali. Tokoh, Ajisaka, berkaitan dengan bangsa Saka dari India barat laut. Sebagian masyarakat Jawa percaya bahwa Ajisaka dahulu pernah hidup di Jawa dan berasal dari India. Mereka juga percaya bahwa Ajisakalah yang menciptakan aksara Jawa dan kalender Saka.

4. Seni Arsitektur dan Teknologi

Sebelum unsur-unsur Hindu-Buddha masuk, masyarakat Indonesia telah mengenal teknologi membuat bangunan dari batu pada masa Megalitikum. Mereka telah pandai membangun menhir, sarkofagus, peti (kuburan) kubur, patung sederhana, dan benda benda dari batu lainnya. Setelah berkenalan dengan seni arsitektur Hindu-Buddha, mereka kemudian mengadopsi teknologinya.

Jadilah candi, stupa, keraton, makara yang memiliki seni hias (relief) dan arsitekturnya yang lebih beraneka.

a. Candi

Candi berasal dari frase candika graha yang berarti kediaman Betari Durga. Durga ini disembah terutama oleh umat Buddha. Dalam dunia pewayangan di Indonesia, Durga merupakan istri Dewa Siwa yang dikutuk dari berwajah cantik menjadi raksasa. Yang pertama mendirikan candi di India diduga adalah umat Buddhis. Ini terlihat dari temuan candi tertua di sana yang dibangun pada abad ke-3 SM. Pada perkembangan berikutnya, candi pun didirikan oleh umat Hindu.

Awalnya, candi didirikan sebagai tempat penyimpanan abu hasil pembakaran jenazah raja. Karena itu, di candi yang disebut pripih sering ditemukan sebuah wadah penyimpanan abu jenazah. Di atas abu jenazah tersebut terpampang arca raja bersangkutan. Disimpan pula patung dewa tertentu, biasanya dewa ini dipuja oleh almarhum yang bersangkutan. Pada dinding-dinding candi biasanya terdapat deretan relief yang mengisahkan cerita-cerita Mahabharata atau Ramayana atau kisah sastra lainnya. Pada candi Buddhis biasanya terdapat relief seputar kehidupan Siddharta. Fungsi candi selanjutnya berkembang menjadi tempat sembahyang (berasal dari frase “sembah hyang”) untuk dewa-dewi.

Jawa adalah tempat yang paling banyak terdapat candi, disusul oleh Sumatera. Ini menandakan bahwa perkembangan agama dan kebudayaan Hindu-Buddha berlangsung lebih pesat di Jawa, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur sebagai pusat-pusat pemerintahan pada masanya. Berdasarkan arsitektur dan tempat dibangunnya, candi-candi di Indonesia dapat dibagi atas: candi yang terletak di Jawa Tengah (bagian selatan dan utara), Jawa Timur, dan lain-lainnya seperti di Sumatera, Bali, dan Jawa Barat.

Bentuk candi-candi di Jawa Tengah di bagian selatan berbeda dengan yang ada di bagian utara. Namun demikian, secara umum (Soetarno, 2003) candi-candi yang ada di kedua wilayah tersebut memiliki kesamaan, yaitu:

(1) Bentuk bangunan tampak lebih gemuk, terbuat dari batu andesit.
(2) Atapnya berbentuk undak-undakan dan puncaknya berbentuk stupa atau ratna.
(3) Pada pintu dan relung terdapat hiasan bermotif makara.
(4) Reliefnya timbul agak tinggi dan lukisannya bercorak naturalis (dua dimensi).
(5) Letak candi utama terletak di tengah-tengah halaman komplek candi muka candi menghadap ke arah timur.

b. Stupa
Stupa merupakan tempat penyimpanan abu sang Buddha dan melambangkan perjalanan Sang Buddha menuju nirvana. Setelah wafat, jasad Buddha dikremasi, lalu abunya disimpan dalam delapan stupa terpisah di utara India. Pada masa kuno di India, stupa digunakan sebagai makam penyimpanan abu bangsawan atau tokoh tertentu. Stupa kemudian dijadikan lambang Buddhisme dan menunjukkan luas pengaruh Buddhisme di berbagai kawasan. Semasa pemerintahan Ashoka (abad ke-2 SM) di India dibangun banyak stupa untuk menandakan Buddha sebagai agama kerajaan. Di Asia Tenggara dan Timur, stupa juga didirikan sebagai pengakuan terhadap Buddhisme di wilayah bersangkutan. Stupa terdiri atas tiga bagian, yaitu andah, yanthra, dan cakra. Andah melambangkan dunia bawah, tempat manusia yang masih dikuasai hawa nafsu, Yanthra merupakan suatu benda untuk memusatkan pikiran saat bermeditasi, dan Cakra melambangkan nirvana atau nirwana, tempat para dewa bersemayam. Stupa di Indonesia memiliki kekhasan tersendiri. Di Indonesia stupa sering merupakan bagian candi atau komplek candi tertentu, seperti pada Candi Mendut, Borobudur, Jawi, dan Candi Muara Takus.

c. Keraton
Keraton (istana) merupakan bangunan tempat tinggal raja-raja. Peninggalan keraton-keraton pada masa Hindu-Buddha, kini jarang ada yang utuh. Sebagian tinggal puing-puing dan pondasi dasarnya saja, sebagian lagi malah tak berbekas. Istana-istana pada masa Hindu-Buddha didirikan dengan pondasi dari batu atau batu bata. Biasanya dindingnya terbuat dari kayu, sedangkan atapnya dari daun sirap. Karena itu, kini yang tersisa hanyalah pondasipondasinya.

Salah satu keraton peninggalan Hindu-Buddha yang sudah berupa puing adalah Keraton Boko. Keraton ini terletak 2 km dari Candi Prambanan. Disebut Keraton Boko karena menurut legenda di situlah letak Kerajaan Boko, yaitu asal Roro Jonggrang sebelum dilamar oleh Bandung Bondowoso. Para ahli mengaitkan keraton ini dengan raja-raja Mataram yang membuat Candi Prambanan. Bangunan ini tidak dapat disebut candi karena di sekitarnya terdapat bekas benteng dan juga kanal atau selokan.

Di sekitar utara Keraton Boko terdapat sejumlah bekas-bekas candi yang semua telah rusak, di antaranya Candi Ngaglik, Candi Watu Gudhig, Candi Geblog, Candi Bubrah, Candi Singa, dan Candi Grimbiangan. Melihat corak relief dan arsitekturanya, candicandi ini bercorak Siwa. Mungkin didirikan oleh raja Mataram Dinasti Sanjaya. Istana lainnya adalah reruntuhan bekas keraton Majapahit di Trowulan, Mojokerto. Masih terlihat tempat kolam yang dulu digunakan sebagai tempat pemandian kerabat raja (sekarang dinamai Candi Tikus).

5. Bidang Seni Rupa
Selain pada arsitektur, pengaruh budaya Hindu-Buddha terlihat pada bidang seni rupa, seperti corak relief, patung atau arca, dan makara pada candi atau keraton. Dalam hal motif yang pada masa prasejarah berupa motif-motif budaya Vietnam purba, maka pada masa Hindu-Buddha berkembang dan makin beragam.

a. Patung
Arca (patung) dipahat membentuk mahluk tertentu, biasanya manusia atau binatang dengan tujuan mengabadikan tokoh yang dipatungkan. Patung dibuat oleh para seniman dan pemahat handal yang termasuk kasta waisya. Biasanya patung ini disimpan dalam candi sebagai penghormatan terhadap dewa dan raja yang disembah. Adakalanya sebuah patung raja disimbolkan sebagai patung dewa atau raja yang dipuja.

b. Relief
Relief merupakan seni pahat-timbul pada dinding candi yang terbuat dari batu. Pada candi bercorak Hindu, relief tersebut biasanya melukisan cerita atau kisah yang diambil dari kitab-kitab suci maupun sastra (bias cerita utuh, bias pula hanya cuplikan), misalnya Mahabharata, Ramayana, Sudamala, Kresnayana, Arjuna Wiwaha, berikut tokohtokoh Wayang Punakawan yang tak terdapat di India. Sedangkan dalam candi Buddha, pada reliefnya terpahat cerita seputar kisah hidup Siddharta Sang Buddha. Ada pula relief yang menceritakan cerita legenda dari India dan cerita fabel.

Masing-masing daerah memiliki corak relief yang khas. Relief pada candi di Jawa Tengah tak sama dengan relief di candi di Jawa Timur. Di Jawa Tengah, karakteristik objek (manusia, hewan, tumbuhan) pada relief-reliefnya bersifat natural; artinya Bentuk pahatan objek tak jauh beda dengan bentuk asli dari objek tersebut (dua dimensi). Sedangkan, karakteristik objek pada relief di Jawa Timur tampak lebih pipih seperti bentuk wayang kulit (satu dimensi). Menurut para ahli, peralihan karakteristik para relief ini menunjukkan peralihan dari zaman Hindu-Jawa ke zaman Jawa- Hindu. Artinya: ketika kekuasaan beralih dari barat (Jawa Tengah) ke timur (Jawa Timur), dengan sendirinya kebudayaan masyarakat Jawa makin berkembang, makin percaya diri dengan corak seninya sendiri, tanpa harus terus menyontek budaya India.

c. Makara
Dalam mitologi Hindu-Buddha, makara adalah perwujudan seekor binatang laut besar yang diidentikkan dengan buaya, hiu, lumba-lumba, sebagai binatang luar biasa. Binatang “jadi-jadian” ini menjadi salah satu motif yang lazim dalam arsitektur India dan Jawa. Biasanya patung (bisa pula berbentuk relief) makara ini dipajang pada pintu gerbang candi atau keraton. Pada Candi Borobudur, contohnya, makaranya berbentuk binatang paduan: berkepala gajah, bertelinga sapi, bertanduk domba, dengan singa berukuran kecil di dalam mulut makara tersebut. Pahatan makara ini biasanya berfungsi sebagai mulut saluran air mancur.

6. Bidang Kesusastraan
Dari India, masyarakat Indonesia mengenal sistem tulis. Karyakarya tulis yang pertama ada di Indonesia ditulis pada batu (prasasti) yang memuat peristiwa penting seputar raja atau kerajaan tertentu. Pada masa berikutnya penulisan dilakukan di atas daun lontar (Latin: Borassus flabellifer), batang bambu, lempengan perunggu, daun nifah (Latin: Nifa frutican), dan kulit kayu, karena bahanbahan tersebut lebih lunak daripada batu, lebih mudah dijinjing dan bisa dibawa ke mana-mana, dan lebih tahan lama. Pada masa Islam, penulisan dilakukan di atas dluwang (terbuat dari kulit kayu pohon mulberry), kertas, logam mulia, kayu, serta kain. Penulisan pada bahan-bahan yang lebih lunak memungkinkan para penulis lebih leluasa dalam bekarya. Awalnya mereka menulis karya-karya sastra dari India, seperti Mahabharata dan Ramayana. Setelah menyalin dan menerjemahkan karya-karya tersebut, mereka lalu mulai menggubah cerita yang asli ke dalam sebuah kitab. Jadilah karya sastra yang indah dalam segi bahasa, meski sifat-sifat kesejarahannya samar.

a. Kitab
Kitab merupakan tulisan berupa kisah, cerita, sejarah, dan kadang campuran antara legenda-mitos-sejarah sekaligus. Pada masa Hindu-Buddha, kitab ditulis oleh para pujangga (sastrawan) istana raja tertentu. Mereka menulis atas perintah raja masing-masing. Hidup mereka ditanggung oleh negara dan mereka harus menaati apa saja yang harus ditulis atas perintah raja. Oleh karena itu, bisa saja dua kitab yang ditulis oleh dua penulis yang berbeda, membahas tokoh yang sama namun isinya bertolak belakang.

Ada pula kitab yang ditulis pada masa yang berbeda dengan apa yang dibahasnya. Bisa saja sebuah kitab menulis peristiwa sejarah yang telah berlalu satu abad, misalnya. Dengan demikian, peristiwa yang dilukiskannya bisa saja tak persis dengan apa yang terjadi sesungguhnya. Sumber cerita mungkin saja diterima dari
orang atau raja yang menyimpan maksud-maksud politis tertentu; jadi pendapatnya sepihak dan tidak ilmiah.

Kitab biasanya ditulis pada lembaran daun rontal atau lontar yang diikatkan dengan semacam tali agar tidak berceceran. Lontar adalah sejenis tumbuhan yang tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia dan daerah subtropis. Tingginya kurang-lebih 30 meter dan bewarna kuning dan tumbuh di hutan yang selalu tergenang air. Kayunya bisa dipakai untuk bahan membuat rumah. Isi kitab biasanya merupakan rangkaian puisi dalam sejumlah bait (pupuh) yang disebut kakawin. Selain cerita tentang raja-raja, kitab bisa pula menceritakan mitologi, legenda, cerita rakyat (folklore), undang-undang, hukum pidana-perdata, hingga aturan pernikahan. Di berbagai daerah di Indonesia kitab disebut pula kidung, carita, kakawin, serat, tambo. Bisa pula kitab merupakan sebuah gubahan dari cerita aslinya; dalam arti cerita tersebut sudah mengalami perubahan (tambahan atau pengurangan), baik dalam jumlah tokoh, alur, latar tempat. Mengenai waktu pun sering tak dicantumkan alias diabaikan oleh sang penulis kitab meski yang ditulisnya mengandung sifat kesejarahan.

Pembuatan kitab pertama kali dirintis pada masa DinastiIsana pemerintahan Dharmawangsa Teguh. Ia mempelopori penggubahan epik Mahabharata dalam bahasa Kawi (Jawa Kuno). Arjuna Wiwaha, karya Mpu Kanwa ditulis pada masa pemerintahan Raja Airlangga abad ke-11 M. Bharatayudha karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, ditulis pada pemerintahan Raja Jayabaya dari Kediri pada abad ke-12.

b. Prasasti (Batu Bertulis)
Prasasti merupakan tulisan yang memuat informasi sejarah yang ditulis pada tugu baru tersendiri atau ditatah di bagian tertentu pada candi. Bahan untuk membuat prasasti ini biasanya batu atau logam. Informasi sejarah ini biasanya berupa peringatan terhadap usaha raja dalam menyejahterakan rakyatnya dalam bentuk memberikan kurban sapi kepada kaum brahmana atau pendirian taman atau penggalian kanal atau sungai. Bisa pula prasasti berisi usaha raja yang berhasil menaklukkan kerajaan lain.

Mulanya, prasasti dan yupa ditulis (zaman Tarumanagara dan Kutai), menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Prasasti-prasasti yang merupakan peninggalan Tarumanagara di antaranya: Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Jambu, Prasasti Tugu, Prasasti Pasir Awi dan Muara Ciaruteun, serta Prasasti Lebak. Kebanyakan prasasti-prasasti ini berbahasa Sansekerta dan berabjad Pallawa. Dengan demikian, tak sembarang orang bisa membuat prasasti kecuali kaum agama dan bangsawan yang pandai mambaca-menulis. Pada masa berikutnya, yaitu masa Mataram dan seterusnya, huruf yang dipakai telah mengalami perkembangan yang disesuaikan dengan bahasa setempat menjadi huruf Kawi atau Jawa Kuno. Sedangkan di Sumatera, bahasa yang digunakan awalnya adalah Pali dan kemudian menjadi Melayu Kuno.

c. Pertunjukan Wayang
Budaya wayang diperkirakan telah hidup pada masa prasejarah. Budaya mana pun ternyata memiliki seni pertunjukan wayang masing-masing. Di Asia Tenggara karakter wayang memiliki banyak kesamaan, dalam bentuk, motif, hiasan, dan cara dipegang oleh dalang. Pada mulanya, zaman prasejarah, pertunjukan wayang merupakan seni rakyat dan ditujukan untuk menghormati roh leluhur. Kemudian pada masa Hindu-Buddha, kesenian wayang mulai digemari oleh kaum bangsawan dan raja. Jadilah, wayang pun menjadi seni keraton yang mengenal bahasa “halus”, untuk membedakan dengan bahasa rakyat yang “kasar”.

Dalang adalah orang yang memperagakan adegan wayang, membuat dialog percakapan antarwayang, menjadi pencerita (narator), sekaligus memimpin orkestra (gamelan) yang dimainkan para nayaga (pemain alat musik yang seluruhnya pria) dan dinyanyikan oleh sinden (biasanya perempuan). Kisah-kisah yang dipentaskan biasanya diambil dari kakawin Mahabharata atau Ramayana. Dengan demikian, alur dan ceritanya pun banyak ditambah dan diperbaharui. Misalnya, adanya tokoh punakawan seperti Semar.

7. Bidang Seni Tari dan Musik

Seni tari telah ada di Indonesia sejak masa prasejarah. Ketika itu tarian dilakukan sebagai persembahan kepada roh nenekmoyang dalam upacara-upacara, seperti pada acara panen. Jadi, bertari merupakan kegiatan keagamaan yang suci dan ritual. Musik sebagai pengiring para penari berasal dari irama ritmis dari alat-alat perkusi atau tetabuhan yang dipukul-pukul tanpa iringan alat bernada, kecuali suara tenggorokan.

Ketika pengaruh Hindu-Buddha masuk, seni tari masih dipentaskan dalam rangka keagamaan, perkawinan, pengangkatan raja, dan lain-lain. Alat-alat bernada mulai dipakai, seperti alat tiup, alat petik, alat gesek. Persembahan tarian dan musik di kalangan raja dan bangsawan makin berkembang seiring perkenalan masyarakat Indonesia dengan bangsa-bangsa lain. Hingga sekarang pengaruh seni musik India di Indonesia masih dapat dinikmati, misalnya musik dangdut.

Dari uraian di atas, kalian dapat memahami bahwa pertemuan antara dua bangsa yang berbeda akan menghasilkan kebudayaan yang sinkretis, budaya campuran. Penduduk Indonesia yang sejak dulu telah berkenalan dengan budaya luar, pada kenyataannya bias menyerap budaya asing tersebut tanpa harus meninggalkan kebudayaan asli. Dengan kearifan lokalnya masyarakat Indonesia dapat beradaptasi dengan budaya luar dan menyaringnya sesuai dengan kebutuhan dan kondisi ekologis masing-masing. Setelah berasimilasi, akhirnya budaya serapan itu bukanlah sesuatu yang asing lagi, bahkan sudah dianggap budaya sendiri.

8. Bidang Pemerintahan
Bentuk kesatuan masyarakat Indonesia pra Hindu adalah kesatuan masyarakat yang dipimpin oleh seorang kepala yang dipilih berdasar prinsip Prints Inter Pares (yang utama di antara sesama) Namun setelah pengaruh Hindu-Buddha masuk dan berkembang di Indonesia, muncullah sistem pemerintahan Kerajaan yang dipimpin berdasarkan sistem Dinasti (turun temurun).
Sumber : http://ssbelajar.blogspot.com/2012/05/pengaruh-hindu-budha-terhadap-indonesia.html

Puri Agung Tabanan


Di Bali, rumah jabatan tempat tinggal raja disebut “Puri Agung”. Keberadaan Puri Agung Tabanan berkaitan dengan tokoh Arya Kenceng, yang dipercaya ikut datang bersama Gajah Mada ketika Majapahit menaklukkan Kerajaan Bedulu di Bali pada tahun 1343.

Setelah dapat menaklukkan, Dalem Sri Kresna Kepakisan yang menjadi Raja Bali dengan kedudukan di Samprangan kemudian memberikan kekuasaan kepada Arya Kenceng untuk memerintah Tabanan, dengan pusat kerajaan atau Puri Agung yang terletak di Pucangan (Buahan), Tabanan.

Arya Kenceng adalah Raja Tabanan I, yang Kerajaannya berada di Pucangan/Buahan mempunyai putra :
Dewa Raka /Sri Megada Perabhu
Dewa Made /Sri Megada Natha
Kiayi Tegeh Kori
Nyai Tegeh Kori.

Sri Megada Natha, Raja Tabanan II, berputra :
Sirarya Ngurah Langwang
Ki Gusti Made Utara ( Madyatara )
Ki Gusti Nyoman Pascima
Ki Gusti Wetaning Pangkung
Ki Gusti Nengah Samping Boni
Ki Gusti Batan Ancak
Ki Gusti Ketut Lebah
Kiyai Ketut Pucangan/Sirarya Ketut Notor Wandira.

Puri Agung Pindah Ke Tabanan
Puri Agung Beserta Pura Batur Kawitan di Pucangan Pindah Ke Tabanan pada jaman pemerintahan Sirarya Ngurah Langwang, Raja Tabanan III. Beliau menggantikan Ayahnya Sri Megada Natha menjadi raja, yang kemudian mendapat perintah dari Dalem Raja Bali agar memindahkan Kerajaannya / Purinya di Pucangan ke daerah selatan, hal ini kemungkinan disebabkan secara geografis dan demografis sulit dicapai oleh Dalem dari Gegel dalam kegiatan inspeksi.

Puri Tabanan Tahun 1906 pada Saat Ekspedisi Belanda

Akhirnya Arya Ngurah Langwang mendapat pewisik, dimana ada asap (tabunan) mengepul agar disanalah membangun puri. Setelah melakukan pengamatan dari Kebon Tingguh, terlihat di daerah selatan asap mengepul ke atas, kemudian beliau menuju ke tempat asap mengepul tersebut, ternyata keluar dari sebuah sumur yang terletak di dalam area Pedukuhan yaitu Dukuh Sakti( di Pura Pusar Tasik Tabanan sekarang ).

Akhirnya ditetapkan disitulah beliau membangun Puri, setelah selesai, dipindahlah secara resmi Puri Agung / Kerajaannya beserta Batur Kawitannya dari Pucangan ke Tabanan ( Sekitar Abad 14 ). Oleh karena asap terus mengepul dari sumur seperti tabunan sehingga puri beliau diberi nama Puri Agung Tabunan, yang kemudian pengucapannya berubah menjadi Puri Agung Tabanan, sedangkan Kerajaannya disebut Puri Singasana dan Raja bergelar Sang Nateng Singasana.

Letak dan Denah di tahun 1900

Denah Puri Agung Tabanan 1900
Batas Utara : Rurung /Jalan, Pasar( di area pohon beringin sekarang )dan Dangin Peken
Batas Timur : Jalan sebelah barat Pura Sakenan dan Jero Oka( Pasar Tabanan sekarang )
Batas Selatan : Jalan Gajah MadaBatas Barat : Jero Subamia, Pekandelan Puri Gede / Agung dan Jero Meregan

Denah Puri Tabanan tahun 1900 Masehi
Selanjutnya Puri Agung Tabanan ditempati oleh Raja-Raja Tabanan berikutnya, yang juga menurunkan Pratisentana Arya Kenceng di berbagai Jero / Puri yang ada di Tabanan, sebagai berikut :

Raja Tabanan ke : IV. Sirarya Ngurah Tabanan / Prabu Winalwan / Betara Mekules.
V. Ki Gusti Wayahan Pemadekan
VI. Ki Gusti Made Pemadekan Pura Batur Wanasari di Wanasari Tabanan
VII. Sirarya Ngurah Tabanan / Prabu Winalwan / Betara Mekules. ( Pelinggih / Tempat memuja dan mengaturkan sembah bakti kepada Beliau ada di Pura Batur Wanasari di Wanasari Tabanan. Petoyan / Odalan pada dina Anggara/Selasa Kliwon Dukut )

VIII. Sirarya Ngurah Tabanan / Betara Nisweng Penida
IX. Ki Gusti Nengah Malkangin dan Ki Gusti Made Dalang

Pura Batur Wanasari Tabanan

X. Ki Gusti Bola
XI. Ki Gusti Alit Dawuh / Sri Megada Sakti
XII. Putra Sulung Sri Megada Sakti / Ratu Lepas Pemade
XIII. Ki Gusti Ngurah Sekar / Cokorda Sekar
XIV. Ki Gusti Ngurah Gede / Cokorda Gede Ratu
XV. Ki Gusti Ngurah Made Rai / Cokorda Made Rai
XVI. Kiyayi Buruan
XVII. Ki Gusti Ngurah Rai / Cokorda Rai. Berpuri di Penebel Tabanan
XVIII. Ki Gusti Ngurah Ubung
XIX. Ki Gusti Ngurah Agung / Ratu Singasana
XX. Sirarya Ngurah Tabanan / Ida Betara Ngeluhur Raja XX dari tahun 1868 s/d 1903, berputra :
Arya Ngurah Agung
Ki Gusti Ngurah Gede Mas
Arya Ngurah Alit
Ki Gusti Ngurah Rai Perang ( Membangun Puri Dangin )
Ki Gusti Ngurah Made Batan ( Puri Dangin )
Ki Gusti Ngurah Nyoman Pangkung ( Puri Dangin )
I Gusti Ngurah Gede Marga ( Membangun Puri Denpasar Tabanan )
I Gusti Ngurah Putu ( Membangun Puri Pemecutan Tabanan ), berputra : .
I Gusti Ngurah Wayan.
I Gusti Ngurah Made, berputra :
I Gusti Ngurah Gede
I Gusti Ngurah Mayun.
I Gusti Ngurah Ketut.
Sagung Nyoman.
Sagung Rai.
Sagung Ketut
Sagung Wah ( terkenal memimpin Bebalikan Wangaya melawan Belanda )
XXI. Ki Gusti Ngurah Rai Perang / Cokorda Rai Perang dari 1903 s/d 1906

Zaman penjajahan Belanda Pada 27 September 1906, jaman penjajahan Belanda, Kerajaan Tabanan dikuasai oleh Belanda, Raja Tabanan saat itu, Cokorda Ngurah Rai Perang beserta Putra dan Saudara-Saudaranya ditawan oleh Belanda di Puri Denpasar.

Tanggal 28 September Puri Agung Singasana, Puri Mecutan Tabanan, Puri Dangin Tabanan, Puri Denpasar Tabanan dan beberapa yang lainnya dihancurkan oleh Belanda. Raja Tabanan Cokorda Ngurah Rai Perang dan seorang Putra Beliau ( I Gusti Ngurah Gede Pegeg ) dengan keberaniannya melakukan puputan(bunuh diri ) di Puri Denpasar, karena tidak mau tunduk atau menjadi tawanan Belanda.

Tanggal 29 September 1906 putra dan saudara-saudaranya di Puri Dangin Tabanan, Puri Pemecutan Tabanan dan Puri Denpasar Tabanan diselong / diasingkan ke Sasak Lombok. Setelah beberapa tahun diselong di Lombok, masih dalam masa penjajahan Belanda, putra dan saudaranya Alm. “Cokorda Ngurah Rai Perang” lagi dikembalikan ke Tabanan.

Dalam rangka memilih Kepala Pemerintahaan di Tabanan, Belanda juga mencari dan menerima saran-saran dari beberapa Puri / Jero yang sebelumnya ada dalam struktur kerajaan, tentang bagaimana tatacara memilih seorang raja di Tabanan sebelumnya. Setelah mempertimbangkannya, pada tanggal 8 Juli 1929, diputuskan sebagai Kepala / Bestuurder Pemerintahan Tabanan dipilih I Gusti Ngurah Ketut putra I Gusti Ngurah Putu ( putra Sirarya Ngurah Agung Tabanan, Raja Tabanan ke XX ) dari Puri Mecutan, dengan gelar Cokorda.

Pelantikan Raja Raja di Besakih, 8 Juli 1938( Cokorda Ngurah Ketut nomer 1 dari kiri)
Selanjutnya Beliau membangun kembali puri beserta Pura Batur Kawitan Betara Arya Kenceng di area bekas letak Puri Agung Tabanan yang telah dihancurkan Belanda. Karena adanya keterbatasan saat itu, luas area yang digunakan dan jumlah bangunan adat yang didirikan tidak seperti yang semula.
Raja Raja Bali 1938 ( Cokorda Ngurah Ketut nomer 2 dari kiri)
Pada tanggal 1 Juli 1938 Tabanan menjadi Daerah Swapraja, Kepala Daerah Swapraja tetap dijabat oleh I Gusti Ngurah Ketut ( dari Puri Mecutan Tabanan ), kemudian Beliau dilantik / disumpah di Pura Besakih pada Hari Raya Galungan tanggal 29 Juli 1938 dan Mabiseka Ratu Cokorda Ngurah Ketut, dilihat dari urutan Raja Tabanan, beliau adalah Raja Tabanan ke XXII 1938 s/d 1947.

Setelah kemerdekaan sampai sekarang
Cokorda Ngurah Ketut berada di Puri Agung Tabanan bersama putra dan saudaranya ( I Gusti Ngurah Wayan, I Gusti Ngurah Made, Sagung Nyoman, Sagung Rai dan Sagung Ketut ). Pada jaman kerajaan, hanya raja dan putera mahkota saja yang menempati Puri Agung Tabanan, sedangkan putra-putra lainnya, oleh raja dibuatkan Puri / Jero baru beserta kelengkapannya. Seiring dengan terjadinya perubahan jaman dan pemerintahan, hal tersebut tidak berkelanjutan, dimana tidak dibangun lagi Puri Pemecutan Tabanan dan Puri-Puri/Jero-Jero baru.
Sekarang yang berada di Puri Agung Tabanan adalah kelanjutan keturunan Cokorda Ngurah Ketut dan Saudaranya, yang merupakan putera I Gusti Ngurah Putu ( Putera Sirarya Ngurah Agung Tabanan, Raja Tabanan ke XX ) yang berasal dari Puri Pemecutan Tabanan.
Cokorda Ngurah Ketut berputera :
1. I Gusti Ngurah Gede
2. I Gusti Ngurah Alit Putra
3. Sagung Mas
4. I Gusti Ngurah Agung

Selanjutnya I Gusti Ngurah Gede, putera sulung Cokorda Ngurah Ketut menjadi Cokorda Tabanan, bergelar Cokorda Ngurah Gede, Raja Tabanan XXIII Maret 1947 s/d 1986 dan beliau menjabat Bupati Tabanan Pertama tahun 1950, tempat tinggal Beliau disebut Puri Gede / Puri Agung Tabanan.
Cokorde Ngurah Gede (Raja Tabanan ke XXIII)

Cokorda Ngurah Gede, Berputra :
.1. Sagung Putri Sartika
.2. I Gusti Ngurah Bagus Hartawan
.3. Sagung Putra Sardini
.4. I Gusti Ngurah Alit Darmawan
.5. Sagung Ayu Ratnamurni
.6. Sagung Jegeg Ratnaningsih
.7. I Gusti Ngurah Agung Dharmasetiawan
.8. Sagung Ratnaningrat
.9. I Gusti Ngurah Rupawan
10. I Gusti Ngurah Putra Wartawan
11. I Gusti Ngurah Alit Aryawan
12. Sagung Putri Ratnawati
13. I Gusti Ngurah Bagus Grastawan
14. I Gusti Ngurah Mayun Mulyawan
15. Sagung Rai Mayawati
16. Sagung Anom Mayadwipa
17. Sagung Oka Mayapada
18. I Gusti Ngurah Raka Heryawan
19. I Gusti Ngurah Bagus Rudi Hermawan
20. I Gusti Ngurah Bagus Indrawan
21. Sagung Jegeg Mayadianti
22. I Gusti Ngurah Adi Suartawan.

Ida Cokorda Anglurah Tabanan

Pada tanggal 21 Maret 2008, I Gusti Ngurah Rupawan putera Cokorda Ngurah Gede Mabiseka Ratu, bergelar Ida Cokorda Anglurah Tabanan merupakan urutan Raja Tabanan ke XXIV, berpuri di Puri Agung Tabanan.
Cokorda Anglurah Tabanan, berputra :
1. Sagung Manik Vera Yuliawati
2. I Gusti Ngurah Agung Joni Wirawan
3. Sagung Inten Nismayani

http://sejarah-puri-pemecutan.blogspot.com/2011/02/puri-agung-tabanan.html

Badad Arya Tabanan

Sumber : Wikipedia
Babad Arya Tabanan adalah babad yang dapat diketemukan di tulisan-tulisan lontar kuno yang dimiliki beberapa Puri (Keraton) di Tabanan, Bali, Indonesia.
Babad ini menceritakan awal ekspedisi Majapahit ke Bali yang dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada dan Arya Damar (Adityawarman). Dalam babad ini disebutkan ada kisah dizaman dahulu, sekitar tahun saka 1250-1256 ada keturunan raja yang tinggal di Kerajaan Kahuripan menurunkan enam anak laki-laki. Putra sulung bernama Rahaden Cakradara ( suami Raja Putri Majapahit III yang bergelar Jaya Wisnu Wardani atau Ratu Bra Kahuripan ), adik-adiknya secara berturutan bernama Sirarya Dhamar, Sirarya Kenceng, Sirarya Kuta Wandira ( Kuta Waringin ), Sirarya Sentong dan yang bungsu Sirarya Belog ( Tan Wikan ) [1]

Pendaratan Di Bali
Pada tahun 1342, pasukan perang Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Gajah Mada selaku Panglima Perang Tertinggi, dibantu oleh Wakil Panglima Perang yang bernama Arya Damar, serta beberapa Perwira / Ksatria menyerang Kerajaan Bedulu di Bali. Masing-masing ksatria ini memimpin pasukannya menyerang. Dikisahkan, Gajah Mada menyerang dari arah Timur, diiringi oleh patih keturunan Mpu Witadarma mendarat di Toya Anyar ( Tianyar ), Arya Damar bersama Arya Sentong dan Arya Kuta Waringin mendarat di Ularan menyerang Bali dari arah Utara, Arya Kenceng bersama Arya Belog, Arya Pengalasan dan Arya Kanuruhan menyerang dari arah Selatan, mendarat di Bangsul menuju Kuta . Pasukan Arya Damar berhasil menaklukkan Ularan yang terletak di pantai utara Bali. Pemimpin Ularan yang bernama Pasung Giri akhirnya menyerah setelah bertempur selama dua hari. Arya Damar yang kehilangan banyak prajurit melampiaskan kemarahannya dengan cara membunuh Pasung Giri. Arya Damar kembali ke Majapahit untuk melaporkan kemenangan di Ularan. Pemerintah pusat yang saat itu dipimpin Tribhuwana Tunggadewi marah atas kelancangannya, yaitu membunuh musuh yang sudah menyerah. Arya Damar pun dikirim kembali ke medan perang untuk menebus kesalahannya. Arya Damar tiba di Bali bergabung dengan Gajah Mada yang bersiap menyerang Tawing. Sempat terjadi kesalahpahaman di mana Arya Damar menyerbu lebih dulu sebelum datangnya perintah. Namun keduanya akhirnya berdamai sehingga pertahanan terakhir Bali pun dapat dihancurkan. Seluruh Pulau Bali akhirnya jatuh ke dalam kekuasaan Majapahit setelah pertempuran panjang selama tujuh bulan.[2] Pemerintahan Bali kemudian dipegang oleh adik-adik Arya Damar, yaitu Arya Kenceng, Arya Kutawandira, Arya Sentong, dan Arya Belog. Sementara itu, Arya Damar sendiri kembali ke daerah kekuasaannya di Palembang. Arya Kenceng memimpin saudara-saudaranya sebagai penguasa Bali bawahan Majapahit. Ia dianggap sebagai leluhur raja-raja Tabanan dan Badung.( Sumber : http://id.rodovid.org/wk/Orang:331778 ) Diceritakan setelah Bali berhasil ditaklukan, sebelum Patih Gajah Mada meninggalkan pulau Bali, semua Arya dikumpulkan, diberikan ceramah tentang pengaturan pemerintahan, ilmu kepemimpinan sampai pada ilmu politik. tujuan utamanya ialah tetap mempersatukan pulau Bali dan dapat dipertahankan sebagai daerah kekuasaan Majapahit. Setelah semua dirasa cukup, semua Arya diberikan daerah kekuasaan yang menyebar diseluruh Bali. Sirarya Kenceng diberikan kekuasaan didaerah Tabanan dengan rakyat sebanyak 40.000 orang, Sirarya Kuta Waringin bertahan di Gegel dengan rakyat sebanyak 5.000 orang, Sirarya Sentong berkedudukan di Pacung dengan rakyat sebanyak 10.000 orang dan Sirarya Belog ( Tan Wikan ) diberikan kerdudukan di Kabakaba dengan jumlah rakyat sebanyak 5.000 orang. Sirarya Dhamar diajak kembali ke Majapahit, kelak beliau diangkat menjadi Adipati Palembang. [3] Salah satu keturunan dari Raja Tabanan, kemudian mendirikan kerajaan Badung ( Denpasar ) yang terkenal dengan Perang Puputan Badung melawan kolonial Belanda. Babad ini juga menceritakan kejadian-kejadian penting dan suksesi Raja-Raja Tabanan.

Silsilah Raja Tabanan[4]
Adwaya Brahman Shri Tinuheng Pura ( Beliau yang di hormati di Singasari & Majapahit ) beristrikan Dara Jingga ( Sira Alaki Dewa / beliau yang bersuami seorang Dewa ), berputra :
Raden Cakradara (suami Tribhuwana Tungga Dewi)
Arya Damar / Adityawarman Raja Palembang
Arya Kenceng
Arya Kuta Wandira
Arya Sentong
Arya Belog
Kembali diceritakan lagi, tentang para ksatria enam bersaudara itu, bagaimana keadaannya ?. Yang sulung bernama Raden Cakradara, alangkah tampan dan sempurna wajahnya, tinggi ilmunya, cerdas dan bijaksana, bajik prilakunya, banyak pengetahuannya, pemberani dan mahir dalam pertempuran. Di dalam sayembara beliau terpilih untuk dijadikan suami oleh sang raja putri Bra Wilwatikta ( raja Majapahit ) yang ketiga. Setelah menikah beliau bergelar Sri Kerta Wardana.
Adapun yang kedua banyak nama beliau, Sirarya Damar, Arya Teja, Raden Dilah, Kyayi Nala. Demikian jumlah namanya. Jabatannya ‘Dyaksa’, perintahnya selalu ditaati, bagaikan singa keberanian beliau.
Yang ketiga bernama Sirarya Kenceng, terkenal tentang keganasannya, keberaniannya ibarat harimau.
Yang keempat Sirarya Kuta Waringin. Yang kelima Sirarya Sentong, serta yang keenam Sirarya Belog, semuanya itu pandai bersilat lidah, bagaikan kelompok gandara prilaku mereka. Kelima para arya itu menjadi pejabat penting ( bahudanda ) mengabdikan diri dibawah Sri Maha Rajadewi Wilatikta ( Majapahit )[5]
Betara Arya Kenceng berkuasa di daerah Tabanan, beristana di sebuah desa bernama Pucangan atau Buwahan di sebelah selatan Baleagung. Batas daerah kekuasaan beliau : sebelah timur sungai Panahan, sebelah barat sungai Sapwan, sebelah utara Gunung Beratan atau Batukaru dan sebelah selatan daerah-daerah di utara desa Sanda, Kurambitan, Blungbang, Tangguntiti dan Bajra, sama-sama daerah kekuasaan Kabakaba, mulai tahun 1343. Adapun beliau Batara Arya Kenceng menikah dengan seorang keturunan brahmana di Ketepengreges, wilayah Majapahit, sang putri tiga bersaudara. Yang tertua menikah dengan Dalem Sri Kresna Kepakisan, Yang ketiga (anom) menikah dengan Arya Sentong dan yang kedua (penengah) menikah dengan Batara Arya Kenceng.[6]

I. Arya Kenceng, Raja Tabanan I
Kerajaannya di Pucangan / Buahan Tabanan.
Dari permaisurinya keturunan Brahmana dari Ketepeng Reges lahir 2 orang putra :
1. Sri Megada Prabu / Dewa Raka ( Tidak berminat dengan keduniawian, membangun pesraman di Kubon Tingguh ), Beliau mengangkat 5 orang anak asuh ( Putra Upon-Upon ) :
1. Ki Bendesa Beng
2. Ki Guliang di Rejasa
3. Ki Telabah di Tuakilang
4. Ki Bendesa di Tajen
5. Ki Tegehen di Buahan
2. Sri Megada Nata / Dewa Made / Arya Yasan

Dari istri yang lain, seorang putri dari Tegeh Kuri, lahir 2 orang putra :
1. Kiyai Tegeh ( Arya Kenceng Tegeh Kori bukan Kuri ). Merupakan Putra kandung dari Arya Kenceng yang beribu dari desa Tegeh di Tabanan( bukan putra Dalem yang diberikan kepada Arya Kenceng, menurut babad versi Benculuk Tegeh Kori / http://bali.stitidharma.org/babad-arya-tegeh-kuri/ ), Beliau membangun Kerajaan di Badung, diselatan kuburan Badung ( Tegal ) dengan nama Puri Tegeh Kori ( sekarang bernama Gria Jro Agung Tegal ), karena ada konflik di intern keluarga maka beliau meninggalkan puri di Tegal dan pindah ke Kapal. Di Kapal sempat membuat mrajan dengan nama “Mrajan Mayun ” yang sama dengan nama mrajan sewaktu di Tegal, dan odalannya sama yaitu pada saat “Pagerwesi”. Dari sana para putra berpencar mencari tempat. Kini pretisentananya ( keturunannya ) berada di Puri Agung Tegal Tamu, Batubulan, Gianyar dan Jero Gelgel di Mengwitani( Badung), Jro Tegeh di Malkangin Tabanan. Dan dalam babad perjalanan Kiyai Tegeh ( Arya Kenceng Tegeh Kori ) tidak pernah membuat istana di Benculuk atau sekarang di sebut Tonja apalagi sampai membangun mrajan Kawitan di Tonja. Di Puri Tegeh Kori beliau berkuasa sampai generasi ke empat.[7]
Adapun putra -putra dari Arya Kenceng Tegeh Kori IV adalah :
1. Kyai Anglurah Putu Agung Tegeh Kori ( setelah dari Kapal kemudian membangun puri di Tegal Tamu, Gianyar, dengan nama Puri Agung Tegal Tamu ( Tamu dari Tegal ). Beliau berputra :
1. I Gusti Putu GelGel. Magenah ring ( bertempat tinggal di ) : Jro Gelgel di Mengwitani Badung, Yeh Mengecir Jembrana dan Jro Tegeh di Malkangin Tabanan
2. I Gusti Putu Mayun. Magenah ring Jro Batu Belig ,Batubelig dan Cemagi
3. I Gusti Ketut Mas. Magenah ring Klusa
4. Kyai Anglurah Made Tegeh. Magenah ring Perang Alas( Lukluk Badung), Pacung ( Abian semal ) dan Dencarik ( Buleleng )
5. I Gusti Nyoman Mas. Magenah ring Kutri
6. I Gusti Putu Sulang. Magenah ring Sulang
7. I Gusti Made Tegeh. Magenah ring Mambal, Sibang, Karang Dalem
8. I Gusti Mesataan. Magenah ring Sidemen
9. I Gusti Putu Tegeh. Magenah ring Lambing, Klan, Tuban
10. I Gusti Ketut Maguyangan. Magenah ring Desa Banyu Campah
11. I Gusti Gede Tegeh. Magenah ring Plasa ( Kuta )
12. I Gusti Abyan Timbul. Magenah ring Abian Timbul
13. I Gusti Putu Sumerta. Magenah ring Sumerta
2. Kyai Anglurah Made Tegeh
3. Kyai Ayu Mimba / Kyai Ayu Tegeh ( Beliau yang menikah Ke Kawya Pura /Puri Mengwi )
2. Nyai Luh Tegeh

II. Sri Magada Nata / Arya Yasan / Sirarya Ngurah Tabanan I, Raja Tabanan II
Beliau diutus oleh Dalem ( Raja Bali ) ke Majapahit untuk menyelidiki terhentinya komunikasi dengan Dalem. Setelah sampai di Majapahit, beliau sangat terkejut, menyaksikan keadaan kerajaan yang kacau balau, karena pengaruh Agama Islam mulai masuk. Beliau kembali ke Pucangan ( Bali ), setelah sampai di Pucangan, beliau sangat kecewa, karena adik perempuannya yang bernama Nyai Luh Tegeh Kori dikawinkan dengan Kiayi Asak dari Kapal oleh Dalem, tanpa sepengetahuan dan persetujuan beliau. Karena sangat kecewa beliau meletakan jabatan dan sebagai raja diserahkan pada putranya Sirarya Ngurah Langwang. Selanjutnya beliau menjalani kehidupan rohani di Kubon Tingguh dan kawin lagi dengan putri dari Ki Bendesa Pucangan, yang kemudian melahirkan putra laki-laki yang bernama Ki Gusti Ketut Pucangan atau Sirarya Notor Wandira, yang mana selanjutnya Sirarya Notor Wandira menjadi Raja Badung dan menurunkan pratisentana ( keturunan ) Arya Kenceng di Badung.
Sri Megada Nata mempunyai putera :
1. Arya Ngurah Langwang
2. Ki Gusti Made Utara ( menurunkan Keluarga Besar Jero Subamya )
3. Ki Gusti Nyoman Pascima (Menurunkan Keluarga Besar Jero Pameregan)
4. Ki Gusti Ketut Wetaning Pangkung ( Menurunkan Pragusti Lod Rurung, Kesimpar & Srampingan )
5. Ki Gusti Samping Boni ( Menurunkan Kelurga Besar Jero Ersania, Kyayi Nengah & Kyayi Titih )

Jero Ersania
(Jl.Cendrawasih 18 Tabanan)


6. Ki Gusti Nyoman Batan Ancak ( Menurunkan Pragusti Ancak & Angligan )
7. Ki Gusti Ketut Lebah
8. Ki Gusti Ketut Bendesa / Sirarya Ketut Pucangan/ Sirarya Notor Wandira ( Selanjutnya menurunkan Raja-Raja dan Pratisentana Arya Kenceng di Badung / Denpasar ).
Diceritakan Kyahi Ketut Bendesa atau Kyahi Wuruju Pucangan setiap malam beliau tidak tidur dirumah, melainkan dirumah-rumah penduduk. Pada suatu malam seorang penduduk melihat api dan setelah didekati ternyata hilang, dan yang terlihat ternyata Si Arya Ketut Pucangan. Orang mengetahui bahwa Si Arya Ketut sangat sakti. Beliau disuruh memotong pohon beringin yang tumbuh diwilayah Kerajaan dan beliau naik sampai kepuncak dan memotong pohon itu sampai bersih. Beliau dengan enaknya duduk diatas puncak, lalu diperintahkan untuk turun oleh Raja. Setelah peristiwa itu lalu diberi nama Sang Arya Ketut Notor Wandira, dan Raja memberinya sebuah keris yang yang bernama I Ceklet. Setelah dewasa Arya Notor Wandira mengambil istri dari desa Buwahan dan berputra 2 orang yaitu :
1. Kyahi Gde Raka
2. Kyahi Gde Rai
Setelah Arya Notor Wandira mempunyai 2 orang putra, beliau ingin mendapatkan kesucian dan wibawa, lalu pergi ke Gunung Giri di Beratan yang bernama Watukaru. Setelah berapa waktu lalu mendapat wangsit yang memerintahkan agar pergi ke Gunung Batur meminta berkah kepada Batari Danu. Sambil menunggu hari baik, beliau berjalan-jalan sampai di desa Tambyak dan tiba-tiba bertemu dengan seorang anak kecil hitam kulitnya, gigi putih, muncul dari pecahan batu di Pura Tambyak, kemudian diajak pulang dan diberi nama Ki Tambyak Tudelaga. Tudelaga adalah namanya yang pertama. Setelah hari baik, Sang Arya disertai oleh Ki Tambyak pergi menuju Selagiri. Kepergiannya nyasar sampai ke Pura Panrajon. Disana beliau semadi memuja Dewa, dan muncullah Sanghyang Panrajon dan berkata agar melanjutkan perjalanan ke Batur. Setelah membatalkan semadinya disertai oleh Ki Tambyak berangkatlah beliau ke Selagiri dan segera melakukan yoga semadi tanpa cacat. Kemudian muncullah Bhetari Danu dan bersabda bahwa Bhetari akan memenuhi kehendaknya asal mau menjunjungnya melintasi danau dan Sang Arya tidak menoleh dan dengan hati teguh memenuhi perintahnya. Ditengah Danau Bhetari menyampaikan sesuatu dan berkata bahwa engkau akan mendapatkan kebahagiaan dalam pemerintahan, dan engkau hendaknya pergi ke negara Badung menemui Sang Anglurah Tegeh Kori. Setelah itu beliau pulang ke Buwahan. Setelah berapa lama beliau lalu pergi kedaerah Badung diikuti oleh istrinya dan Ki Tambyak dan bermalam dirumah Buyut Lumintang. Besoknya melanjutkan perjalanan disertai oleh Ki Buyut kedaerah Tegal dan masuk ke Istana Kyahi Anglurah Tegeh Kori dan mengadakan pembicaraan.( http://www.facebook.com/note.php?note_id=441009182858 ).

III. Arya Ngurah Langwang / Arya Nangun Graha / Sirarya Ngurah Tabanan II, Raja III
Memindahkan Kerajaan Dan Batur Kawitan Di Pucangan Ke Tabanan
Beliau menggantikan Ayahnya ( Sri Megada Nata ) menjadi Raja Tabanan, yang kemudian mendapat perintah Dalem agar memindahkan Purinya ( Kerajaannya ) di Pucangan ke daerah selatan, hal ini kemungkinan disebabkan secara geografis dan demografis sulit dicapai oleh Dalem dari Gegel dalam kegiatan inspeksi. Akhirnya Arya Ngurah Langwang mendapat pewisik, …dimana ada asap mengepul, agar disanalah membangun Puri. Setelah melakukan pengamatan dari Kebon Tingguh terlihat di daerah selatan asap mengepul keatas, kemudian beliau menuju ke tempat asap mengepul tersebut, ternyata keluar dari sebuah sumur yang terletak di dalam areal Pedukuhan yaiti Dukuh Sakti, yang sekarang lokasi sumur tersebut berada di dalam Pura Puser Tasik Tabanan. Kemudian disitulah beliau membangun Puri, setelah selesai dipindahlah Puri / Kerajaannya beserta Pura Batur Kawitan Betara Arya Kenceng ( lihat denah ).

Puri Agung Tabanan 1906
Oleh karena asap terus mengepul dari sumur tersebut seperti tabunan, sehingga puri beliau diberi nama Puri Agung Tabunan, yang kemudian pengucapannya berubah menjadi Puri Agung Tabanan, sedangkan kerajaannya disebut Puri Singasana dan beliau disebut Sang Nateng Singasana. Dari saat itulah beliau bergelar Sirarya Ngurah Tabanan atau juga Ida Betara Nangun Graha. Disebelah Timur Puri, dibangun pesanggrahan khusus untuk Dalem, apabila melakukan inspeksi ke Tabanan dan disebut Puri Dalem. Pada saat itu juga, Dalem memberikan seorang Bagawanta Brahmana Keniten dari Kamasan, yang kemudian ditempatkan di Pasekan ( Griya Pasekan sekarang ).

Pada waktu beliau pindah dari Pucangan ke Tabanan diiringi oleh saudara-saudaranya yaitu :
1. Ki Gusti Made Utara
2. Ki Gusti Nyoman Pascima dan
3. Ki Gusti Wetaning Pangkung.
Sedangkan saudaranya tiga orang lagi yaitu :
1. Ki Gusti Nengah Samping Boni
2. Ki Gusti Nyoman Batan Ancak dan
3. Ki Gusti Ketut Lebah
disuruh pindah ke Desa Nambangan Badung, sebagai pendamping Ki Gusti Ketut Pucangan / Sirarya Notor Wandira yang telah menetap di Bandana ( Badung ). Selanjutnya cucu dari Ki Gusti Samping Boni bernama Ki Gusti Putu Samping, besrta adik-adiknya yaitu : Kiayi Titih, Kiayi Ersani, Kiayi Nengah dan Kiayi Den Ayung mereka kembali ke Tabanan, karena tidak memproleh kedudukan di Badung, diperkirakan sebagai pengiring I Gusti Ayu Pemedetan ( putrid dari Sirarya Notor Wandira ).
Semenjak itu pula Arya Ngurah Langwang, saudara-saudaranya ( Ki Gusti Made Utara, Ki Gusti Nyoman Pascima dan Ki Gusti Wetaning Pangkung) dan seketurunannya berpura kawitan di Pura Batur di Puri Singasana Tabanan ( Puri Agung Tabanan ) Sedangkan bekas lahan Pura Batur di Buahan/Pucangan, selanjutnya diserahkan penggunaannya kepada putra upon-upon Ki Tegehan di Buahan.
Arya Ngurah Langwang berputra :
1. Ki Gusti Ngurah Tabanan / Sang Nateng Singasana
2. Ki Gusti Lod Carik (menurunkan Para Gusti Lod Carik)
3. Ki Gusti Dangin Pasar ( Menurunkan Pragusti Suna, Munang, Batur )
4. Ki Gusti Dangin Margi ( Menurunkan Ki Gusti Blambangan, Ki Gusti Jong, Ki Gusti Mangrawos di Kesiut Kawan, Gusti Mangpagla di Timpag. Semuanya itu disebut Gusti Dangin )
[sunting]IV. Sang Natheng Singasana / Ki Gusti Ngurah Tabanan / Prabu Winalwan / Sirarya Ngurah Tabanan

III / Ida Bhatara Makules, Raja IV & VII
Arya Ngurah Tabanan diminta bantuan oleh Sang Nata Sukasada ( Gegel ) untuk menyerang negara Sasak yang diperintah oleh Kebo Mundur atau Parsua. Dengan keris Kalawong dan tombak Ki Baru Sakti beliau berhasil menaklukan Sasak. Sejak permaisuri beliau meninggal dunia, beliau sangat sedih dan sakit keras, lalu pemerintahan diserahkan kepada kedua anaknya. Sang Nata yang bergelar Prabu Winalwan lalu bertapa di Gunung Batukaru bagian Selatan, disebelah Timur dari Kahyangan Wongaya, pesraman tersebut dinamai Tegal Jero. Sesuai petunjuk Betara beliau lalu tinggal di Wanasari pada keluarga Pedanda Ketut Jambe, dimana saat itu adik Pedanda yang tinggal di Buruan Ida Gede Nyuling tidak setuju beliau tinggal disana, sehingga beliau bersumpah tidak akan nunas tirta seketurunannya pada Ida Gede Nyuling. Setelah beberapa lama akhirnya beliau sembuh dari penyakitnya, kulitnya mengelupas dan ditanam di dekat rumah, lalu didirikan pedarman bernama Batur Wanasari, sejak itu Sang Prabu bergelar Betara Mekules. Pedanda Ketut Nabe ditetapkan sebagai Bagawanta. Juga setelah sembuh beliau kembali ke Puri Singasana Tabanan.
Stana / Pelinggih Ida Betara Mekules berada di Pura Batur Wanasari di Wanasari Tabanan. Hari Piodalannya / Petoyannya pada Anggarkasih Dukut ( Selasa Kliwon Dukut ). Beliau berputra :
1. Ki Gusti Wayahan Pamedekan
2 Ki Gusti Made Pamedekan
3. Ki Gusti Kukuh
4. Ki Gusti Bola
5. Ki Gusti Wangaya
6. Ki Gusti Made
7. Ki Gusti Kajanan
8. Ki Gusti Brengos
9. Ni Gusti Luh Kukuh
10. Ni Gusti Luh Kukub
11. Ni Gusti Luh Tanjung
12. Ni Gusti Luh Tangkas
13. Ni Gusti Luh Ketut

V. Ki Gusti Wayahan Pamadekan / Kyai Wayahan Pamadekan / Sirarya Ngurah Tabanan IV, Raja V (?-1647)
Anglurah Tabanan dan adiknya Aglurah Made Pemadekan, diperintahkan oleh Dalem Sukasada menyerang Pulau Jawa. Dalam peperangan tentara Bali kalah, Anglurah Tabanan ditawan dan dijadikan menantu oleh Sultan Mataram, kemudian berputra Raden Tumenggung.
Ki Gusti Wayahan Pamedekan berputra :
1. Ki Gusti Nengah Malkangin
2 & 3. 2 ( Dua ) Wanita tidak disebutkan namanya
4. Raden Tumenggung ( Putra yang lahir di Mataram )

VI. Ki Gusti Made Pamadekan / Kyai Made Pamadekan / Sirarya Ngurah Tabanan V, Raja VI (1647-1650)
Oleh kakaknya ( Ki Gusti Wayahan Pamedekan ) disuruh kembali ke Bali untuk menggantikannya sebagai raja. Anglurah Made Pamedekan lari dikejar tentara Jawa, bersembunyi disebuah gua, ada seekor burung titiran yang bersuara dapat menyelamatkannya, sehingga bisa selamat sampai kembali di Puri Singasana Tabanan. Sejak saat itu Beliu bersumpah dan juga agar keturunan beliau kelak tidak memelihara, membunuh burung titiran Berputra :
1. Arya Ngurah Tabanan
2. Kyayi Made Dalang
3. Ni Gusti Luh Tabanan

VII. Sang Nateng Singasana, Raja VII (1650-?)
( Kembali naik tahta karena Ki Gusti Made Pamedekan wafat dan putra mahkota masih belum dewasa ).

VIII. Sirarya Ngurah Tabanan VI / Bhatara Nisweng Panida / Putra Sulung Kyai Made Pamadekan, Raja VIII
Saat pemerintahaan beliau, anaknya Ki Gusti Wayahan Pamedekan yang tertua, yang bernama Ki Gusti Nengah Mal Kangin ingin berkuasa, lalu mencari siasat agar Sang Nata pergi ke Dalam Sukasada. Dalam perjalanan pulang beliau dicegat dan dibunuh oleh Ki Gusti Nengah Mal Kangin di Desa Penida. Sejak itu beliau Arya Ngurah Tabanan bergelar Betara Nisweng Penida Berputra :
1. Ni Gusti Luh Kepaon
2. Ni Gusti Ayu Rai
3. Ki Gusti Alit Dawuh

IX. Ki Gusti Nengah Mal Kangin Dan Ki Gusti Made Dalang Raja IX
Ki Gusti Made Dalang ( putra Ki Gusti Made Pamedekan ) berkedudukan di Puri Agung Tabanan sebagai Raja Singasana dengan wilayah kekuasaannya di Sebelah Barat Sungai Dikis.
Ki Gusti Nengah Malkangin ( putra Ki Gusti Wayahan Pamedekan ) berkedudukan di Puri Malkangin dengan wilayah kekuasaan di Sebelah Timur Sungai Dikis.
Ki Gusti Made Dalang meninggal tanpa keturunan, sehingga seluruh wilayah Tabanan dapat dipersatukan oleh Ki Gusti Nengah Malkangin menjadi kekuasaannya. Ki Gusti Nengah Malkangin setelah menjadi Raja Singasana, beliau selalu ingin membinasakan putra mahkota yang bernama Ki Gusti Alit Dawuh ( putra Sirarya Ngurah Tabanan / Betara Nisweng Penida ). Dengan bantuan Ki Gusti Agung Badeng penguasa Kapal yang beristrikan Ni Gusti Luh Tabanan putra dari Ki Gusti Made Pamedekan, saudara perempuan Sirarya Ngurah Tabanan ( Betara Nisweng Pedida ). Putra Mahkota Ki Gusti Alit Dawuh menyerang Ki Gusti Nengah Malkangin dan dalam pertempuran ini Ki Gusti Nengah Malkangin beserta seluruh keluarganya dibunuh oleh Ki Gusti Agung Badeng, hanya seorang putranya yang bernama Ki Gusti Perot tidak dibunuh karena cacad / perot, selanjutnya menurunkan para Gusti Kamasan. Oleh karena Putra Mahkota Ki Gusti Alit Dawuh masih sangat muda dipandang belum mampu memegang pemerintahan, sehingga Ki Gusti Agung Badeng berkenan bermukim sementara di Puri Malkangin untuk mengasuh / mempersiapkan putra mahkota menjadi raja. Sementara diangkatlah Ki Gusti Bola sebagai Raja Singasana.

X. Ki Gusti Bola, Raja X
Berkedudukan di Mal Kangin. Setelah Ki Gusti Bola ( putra dari Ki Gusti Ngurah Tabanan / Prabu Winalwan ) menduduki tahta Singasana, beliau tetap bersikap tidak adil dan menyimpan rasa dendam pada putra mahkota Ki Gusti Alit Dawuh, yang pada akhirnya setelah Ki Gusti Alit Dawuh sudah dianggap dewasa untuk memegang pemerintahan, atas nasihat Ki Gusti Agung Badeng disarankan untuk merebut kekuasaan Ki Gusti Bola. Dalam peperangan Ki Gusti Alit Dawuh dapat mengalahkan Ki Gusti Bola, dimana Ki Gusti Bola tewas ditombak dengan tombak pusaka yang bernama Ki Sandang Lawe.

XI. Ki Gusti Alit Dawuh / Sri Magada Sakti, Raja XI (1700)
Dinobatkan menjadi raja bergelar Sri Megada Sakti, dan negara makmur sejahtera. Beliau juga memutuskan hubungan dengan Dalem, mengingat berkaitan dengan peristiwa Betara Nisweng Penida.
Setelah Sri Megada Sakti mantap kekuasaannya, maka ingin membalaskan dendam terhadap wilayah Penida, lalu diserang dan dapat ditaklukan, sehingga semua kekuasaan daerah Penida masuk Kerajaan Tabanan, seperti : Pandak, Kekeran, Nyitdah, Kediri dan lainnya. Di Kabakaba lalu memerintah Prabu Alit, oleh karena masih muda, timbul pembangkangan dari pengikutnya. Prabu Alit melapor kepada Sri Megada Sakti, lalu beliau menertibkan dan menaklukan desa-desa yang membrontak. Itulah sebabnya daerah negara Tabanan semakin meluas dari lembah Sungai Sungi hingga ke Timur Sungai Pulukan dan sepanjang pantai Selatan.
Saat pemerintahaan beliau, Tabanan diserang oleh Ki Gusti Panji Sakti yang berkuasa di Den Bukit ( Kerajaan Buleleng ). Mereka menyerang ke Wongaya dan merusak Pura Kahyangan Wongaya. Adanya penyerangan tersebut, di Tabanan gempar, kentongan di Bale Agung yang bernama Ki Tan Kober dibunyikan dan rakyat Tabanan bersiap untuk menyerang musuh di Wongaya. Dengan pertolongan Dewata maka keluarlah tawon yang sangat berbisa yang jumlahnya sangat banyak, menyerang pasukan Pasukan Ki Panji Sakti, sehingga mereka lari terbirit-birit. Ki Panji Sakti sadar, bahwa dia telah mendapatkan kutukan Dewata, karena merusak Pura Wongaya, lalu mengirim utusan utusan ke Tabanan menyatakan maaf atas kesalahannya dan berjanji akan berlaku bersahabat. Dan puteri Sang Nata yang bernama Gusti Luh Abian Tubuh diperistri oleh putera Ki Panji Sakti yang bernama Ki Gusti Padang
Beliau berputra :
1. Putra Sulung ( tidak disebutkan namanya )
2. Ki Gusti Made Dawuh / Ida Cokorda Dawuh Pala
2. Ki Gusti Nyoman Telabah
3. Kyayi Jegu
4. Kyayi Kerasan
5. Kyayi Oka
Pada waktu pemerintahan Ki Gusti Alit Dawuh ( Sri Megada Sakti ), di Bandana / Badung, keturunan dari Ki Gusti Nyoman Batan Ancak yang bernama Ki Gusti Nyoman Kelod Kawuh tidak memperoleh kedudukan di Badung, mereka kembali lagi ke Tabanan, kemudian oleh Raja Sri Megada Sakti dititahkan bermukim di Desa Pandak sebagai penguasa daerah pantai batas kerajaan.

XII. Putra Sulung Sri Megada Sakti/Ratu Lepas Pemade/Ida Cokorda Mur Pamade/Ida Cokorda Tabanan, Raja XII
Setelah Sri Megada Sakti mangkat, sebagai raja Tabanan digantikan oleh putera sulungnya yang bergelar Ida Cokorda Tabanan. Cokorda Tabanan lama beliau belum mempunyai putera, karenanya beliau memutuskan dan berjanji : “ Kalau lahir seorang putera, walau dari istri Sudra, maka dialah kelak akan menggantikannya “. Selanjutnya yang pertama hamil adalah istri beliau yang bernama Mekel Sekar dan akhirnya melahirkan seorang putera yang diberi nama Ki Gusti Ngurah Sekar. Selanjutnya yang kedua hamil pada istri beliau yang Prami dan lahir juga seorang putera diberi nama Ki Gusti Ngurah Gede. Setelah Sang Prabu mangkat, sesuai janjinya maka yang naik tahta adalah Ki Gusti Ngurah Sekar dengan gelar Cokorda Sekar / Prabu Singasana Tabanan.
Beliau berputra :
1. Ki Gusti Ngurah Sekar
2. Ki Gusti Ngurah Gede Banjar ( Menjadi Angrurah di Kerambitan, menurunkan Puri-Puri / Jero-Jero dan Pratisentana Arya Kenceng di Kerambitan )
3. Ki Gusti Ngurah Made Dawuh ( Cokorda Dawuh Pala )
4. Ki Gusti Sari ( Bermukim di Wanasari )
5. Ki Gusti Pandak ( Bermukim di Pandak )
6. Ki Gusti Pucangan ( Bermukim di Buwahan )
7. Ki Gusti Rejasa ( bermukin di Rejasa )
8. Ki Gusti Bongan ( Bermukim di Bongan Kawuh )
9. Ki Gusti Sangian ( Bermukim di Banjar Ambengan )
10. Ki Gusti Den ( Bermukim di Banjar Ambengan )

XIII. Ida Cokorda Sekar / Ki Gusti Ngurah Sekar, Raja XIII (1734)
Ki Gusti Ngurah Sekar menggantikan Cokorda Ngurah Tabanan sebagai Raja Tabanan bergelar Ida Cokorda Sekar.
Adik beliau Ki Gusti Ngurah Gede meninggalkan istana, karena tidak puas dengan kedudukannya, lalu tinggal dirumah seorang brahmana di Banjar. Setelah dibujuk dia baru mau kembali ke Tabanan dengan syarat diberikan kekuasaan sama seperti kakaknya, Cokorda Sekar setuju, maka Ki Gusti Ngurah Gede dibikinkan Puri di Kerambitan yang sama seperti Puri Singasana Tabanan dan sebagian wilayah kerajaan dan rakyatnya diserahkan kepada Ki Gusti Ngurah Gede. Setelah dinobatkan beliau bergelar Cokorda Gede Banjar, selanjutnya beliau menurunkan para arya di Kerambitan. Kedudukannya adalah sebagi Raja Kedua, mereka memerintah bersama-sama dan tak mengalami halangan apapun.
Beliau berputra :
1. Ki Gusti Ngurah Gede
2. Ki Gusti Ngurah Made Rai ( Membangun Puri Kaleran, Kembali masuk Puri Agung setelah Raja XIV Wafat )
3. Ki Gusti Ngurah Rai (Membangun puri di Penebel, Menurunkan Ki Gusti Ngurah Ubung & Jero Kerambitan / Kekeran di Kerambitan ). Keturunan Ki Gusti Ngurah Ubung musnah di bunuh dalam perang dengan Ki Gusti Ngurah Agung.
4. Ki Gusti Ngurah Anom. Putra sulungnya bernama Ki Gusti Mas dan mediksa bergelar Ki Gusti Wirya Nala ( Membangun Puri Mas di sebelah Utara Puri Singasana, seluruh keturunannya musnah di bunuh oleh Ki Gusti Ngurah Rai Penebel )

XIV. Ki Gusti Ngurah Gede / Cokorda Gede, Raja XIV berputra :
1. Ki Gusti Nengah Timpag
2. KI Gusti Sambyahan
3. Ki Gusti Ketut Celuk

XV. Ki Gusti Ngurah Made Rai / Cokorda Made Rai, Raja XV (?-1793) berputra :
1. Ki Gusti Ngurah Agung Gede (Seda sebelum Mabiseka Ratu)
2. Ki Gusti Ngurah Nyoman Panji (Seda Sebelum Mebiseka Ratu), berputra :
1. Ki Gusti Ngurah Agung
2. Ki Gusti Ngurah Demung
3. Ki Gusti Ngurah Celuk (Membangun Puri Kediri Tabanan)
3. Kyayi Buruan
4. Kyayi Tegeh
5. Kyayi Beng (Menurunkan Jero Gede Beng, Jero Beng Kawan & Jero Putu)
6. Kyayi Perean (menurunkan Jero Gede Oka, Jero Gede Kompyang)

XVI. Kiyayi Buruan, Raja XVI
Putra dari Ki Gusti Ngurah Made Rai. Dalam pemerintahannya yang didampingi oleh Kiyayi Beng selalu memendam iri hati dan kekwatiran akan kebesaran dan pengaruh Cokorda Rai Penebel beserta putranya Ki Gusti Ngurah Ubung di Penebel, akhirnya Kiyayi Buruan Menyerang Cokorda Rai di Penebel, akan tetapi Kiyayi Buruan dan Kiyayi Beng beserta laskarnya dikalahkan oleh laskar Penebel. Kiyayi Buruan dan Kiyayi Beng bertahan diistananya di Tabanan, akhirnya pasukan Penebel dibawah pimpinan Ki Gusti Ngurah Ubung menyerang Tabanan dan Kiyayi Buruan dan Kiyayi Beng terbunuh beserta seluruh keluarganya. Sedangkan Kiyayi Beng mempunyai istri yang sedang mengandung dan kebetulan berada dirumah orang tuanya di desa Suda akhirnya melahirkan anak laki-laki yang bernama I Gusti Wayahan Beng yang selanjutnya menurunkan Jero Beng, Jero Beng Kawan dan Jero Putu di Tabanan.

XVII. Ki Gusti Ngurah Rai/ Cokorda Rai Penebel, Raja XVII (1793-1820)
Berputera Ki Gusti Ngurah Ubung.

XVIII. Ki Gusti Ngurah Ubung, Raja XVIII (1820)
Beliau adalah putra Ki Gusti Ngurah Rai / Cokorda Penebel. Ki Gusti Ngurah Ubung sebagai raja Singasana berkedudukan di Puri Agung Tabanan, setelah kalah dalam pertempuran di pesiatan ( Pesiapan ) dengan laskar Ki Gusti Ngurah Agung ( putra Ki Gusti Ngurah Nyoman Panji ), kemudian Ki Gusti Ngurah Ubung lari dan bertahan di Puri Penebel dan akhirnya Ki Gusti Ngurah Agung Masuk ke Puri Agung Tabanan sebagai Raja Tabanan. Setelah beberapa tahun berperang, akhirnya raja Ki Gusti Ngurah Agung dibantu oleh raja Mengwi menyerang Ki Gusti Ngurah Ubung di Penebel dan Ki Gusti Ngurah Ubung tewas dalam peperangan di Desa Sesandan.

XIX. Ki Gusti Ngurah Agung / Cokorda Tabanan, Raja XIX (1820-1844)
Beliau adalah putra Ki Gusti Ngurah Panji. Berputra :
1. Sirarya Ngurah Agung
2. Ki Gusti Ngurah Gede Banjar ( Membangun Puri Anom, menetap di Saren Kangin )
3. Ki Gusti Ngurah Nyoman ( Membangun Puri Anom, menetap di Saren Kawuh / Saren Tengah sekarang )
4. Ki Gusti Ngurah Rai ( Diangkat sebagai Putra oleh Ki Gusti Ngurah Demung di Puri Kaleran )
5. Sirarya Ngurah ( Diangkat sbg Putra oleh Ki Gusti Ngurah Demung di Puri Kaleran )
6. Ki Gusti Ngurah Made Penarukan ( Membangun Puri Anyar Tabanan )

XX. Sirarya Ngurah Agung Tabanan / Sirarya Ngurah Tabanan ( Betara Cokorda / Betara Ngaluhur ), Raja XX (1844-1903)
Berputra :
1. Sirarya Ngurah Gede Marga, lahir dari permaisuri dari Marga, bertempat tinggal di Puri Denpasar (sebelah utara Jero Beng).
2. Ki Gusti Ngurah Putu, lahir dari Ni Mekel Karang dari Antosari, bertempat tinggal di Puri Mecutan. Berputra :
1. I Gusti Ngurah Wayan
2. I Gusti Ngurah Made
3. I Gusti Ngurah Ketut
4. Sagung Nyoman
5. Sagung Rai
6. Sagung Ketut
3. Sirarya Ngurah Rai Perang, yang lahir dari Ni Gusti Ayu dari Lod Rurung ( Membangun Puri Dangin )
4. Ki Gusti Ngurah Made Batan ( Puri Dangin )
5. Ki Gusti Ngurah Nyoman Pangkung ( Puri Dangin )
6. Sirarya Ngurah Agung, tetap tinggal di istana, yang lahir dari permaisuri pendamping (Ni Sagung Made Sekar) ( Seda sebelum Mabiseka Ratu )
7. Ki Gusti Ngurah Gede Mas, lahir dari Ni Mekel Kaler dari Pagending
8. Sirarya Ngurah Alit, yang lahir dari Gusti Luh Senapahan ( Seda sebelum Mabiseka Ratu )
9. Sagung Istri Ngurah, lahir dari permaisuri pendamping Raja (Ni Sagung Made Sekar)
10. Ni Sagung Ayu Gede, lahir dari Ni Gusti Ayu Lod Rurung
11. Ni Sagung Wah, lahir dari istri yang berasal dari banjar Ambengan ( terkenal memimpin Bebalikan Wangaya, perang melawan Belanda )
12. Ni Sagung Rai atau Ni Dewa Ketu
13. Ni Sagung Wayahan Kandel
14. Ni Sagung Nyoman Ponjen
15. Ni Sagung Made Kembar
16. Ni Sagung Putu Galuh
17. Ni Sagung Ketut Putri

XXI. Sirarya Ngurah Rai Perang / I Ratu Puri Dangin [8] ,(abhiseka: I Gusti Ngurah Agung) Raja XXI (Tahun 1903 – 1906)
Beliau dari Puri Dangin Tabanan, kembali masuk ke Puri Singasana setelah semua Putra mahkota wafat, merupakan Raja Tabanan ke XXI berkuasa dari tahun 1903 s/d 1906. Ida I Gst Ngr Rai Perang tewas muput raga (menusuk diri sendiri) di Denpasar pada tahun 1906 karena tidak mau tunduk kepada Belanda, Putra mahkota Raja Tabanan Ki Gusti Ngurah Gede Pegeg, juga ikut mengakhiri dirinya bersama ayah beliau. Sehingga hanya tersisa 2 dua orang Putri Raja dari permaisuri yakni Sagung Ayu Oka dan Sagung Ayu Putu, yang kemudian keduanya pindah dan menetap di Puri Anom Tabanan, karena Puri Agung Singasana Tabanan dibakar habis oleh Belanda. Sagung Ayu Oka kemudian menikah dengan Cramer seorang Klerk Kontrolir Belanda, dan Sagung Ayu Putu menikah dengan Ki Gusti Ngurah Anom, di Puri Anom Tabanan.
Putra Putri Beliau dari permaisuri yang ikut masuk ke Puri Agung :
1. Ki Gusti Ngurah Gede Pegeg (Turut Muput Raga di Badung th 1906) tidak berketurunan
2. Sagung Ayu Putu (Pindah ke Puri Anom ) menikah dgn Ki Gusti Ngurah Anom di Puri Anom Tabanan. Menurunkan keturunan di Puri Anom Saren Taman atau sekarang disebut Puri Anom Saren kauh. Sagung Ayu Putu menikah dengan I Gusti Ngurah Anom mempunyai 3 orang keturunan,
1. Sagung Gede (alm,tidak menikah)
2. Sagung Wah (alm,tidak menikah)
3. I Gst Ngr Gede Subagja (alm,menikah dengan Sagung Putra) melahirkan
1. I Gusti Ngurah Agung
2. I Gusti Ngurah Bagus Danendra
3. A A Sagung Mirah Widyawati(menikah dengan I Gst Ngr Bagus Grya Negara)
3. Sagung Ayu Oka (Menikah dengan Mr.Arthur Mauritz Cramer, Klerk kontrolir Belanda)dan memiliki 4 orang anak:
1. Elizabeth(alm-Balanda) memiliki 2 orang anak.
2. Johan Wilhem Cramer(alm-Sukabumi) memiliki 8 orang anak.
3. Jan Cramer(alm-Belanda) memiliki 3 orang anak.
4. Baldi Cramer(alm-Sulawesi Selatan).Keempat anak Sagung Ayu Oka lahir di Jembrana-Bali. Kemudian beserta keluarganya Sagung Ayu Oka pindah ke Sulawesi Selatan. Sagung Ayu Oka meninggal dan dimakamkan di Bantaeng, Sulawesi Selatan dan sampai kini makam beliau dirawat dengan baik oleh pihak gereja.
Raja I Gusti Ngurah Agung (Raja Tabanan XXI) juga mempunyai putera dari istri yang lainnya dan tetap tinggal di Puri Dangin Tabanan[9], sebagai berikut :
1. I Gusti Ngurah Anom ( Tinggal di Puri Dangin Tabanan), berputra :
1. I Gusti Ngurah Ketut
2. I Gusti Ngurah Alit
3. I Gusti Ngurah Made
4. Sagung Oka (Kawin ke Puri Anom)
5. Sagung Nyoman (Kawin ke Jro Oka di Jegu)
6. I Gusti Ngurah Gde Wisadnya
7. I Gusti Ngurah Agung
2. I Gusti Ngurah Putu Konol ( Tinggal di Puri Dangin Tabanan di Jegu), berputra :
1. I Gusti Ngurah Oka
2. I Gusti Ngurah Gde Sasak
3. Sagung Putri
4. Sagung Putra (Kawin ke Puri Dangin Tabanan)
5. Sagung Oka (Kawin ke Puri Pemecutan /Gede /Agung Tabanan)
3. Ni Sagung Made.
Mereka ber tinggal di Puri Dangin Tabanan , yang dibangun lagi, setelah datang dari Lombok, yang mana lokasi purinya tidak dibekas area Puri Dangin Tabanan dulu yang telah dihancurkan Belanda. Yang kemudian selanjutnya menurunkan keluarga-keluarga di Puri Dangin Tabanan dan Puri Dangin Tabanan di Jegu sekarang.

XXII. Cokorda Ngurah Ketut, Raja Tabanan ke XXII (1929-1939)[10]
Pada zaman penjajahan Belanda, Belanda kemudian membentuk suatu daerah otonomi yang dipimpin oleh seorang self bestur, daerah otonomi ini disesuaikan dengan pembagian kerajaan-kerajaan sebelumnya. Untuk Tabanan dan Badung self bestur diberi gelar Ida Cokorda, Gianyar Ida Anak Agung dan sebagainya. Dalam rangka memilih Kepala Pemerintahaan di Tabanan, Belanda juga mencari dan menerima saran-saran dari beberapa Puri / Jero yang sebelumnya ada dalam struktur kerajaan, tentang bagaimana tatacara memilih seorang raja di Tabanan sebelumnya. Setelah mempertimbangkannya, Pada tanggal 8 Juli 1929, diputuskan oleh pemerintah Belanda, sebagai Kepala / Bestuurder Pemerintahan Tabanan dipilih I Gusti Ngurah Ketut, putra I Gusti Ngurah Putu ( putra Sirarya Ngurah Agung Tabanan, Raja Tabanan ke XX ) dari Puri Mecutan, dengan gelar Cokorda.

Pura Batur Kawitan Ida Betara Arya Kenceng di Puri Agung Tabanan
Selanjutnya Beliau membangun kembali Puri beserta Pura Batur Kawitan Betara Arya Kenceng ( Piodalan pada hari Wrespati/Kamis Umanis Dungulan ) di area bekas letak Puri Agung Tabanan yang telah dihancurkan Belanda. Karena adanya keterbatasan saat itu, luas area yang digunakan dan jumlah bangunan adat yang didirikan tidak seperti yang semula.
Pada tanggal 1 Juli 1938 Tabanan menjadi Daerah Swapraja, Kepala Daerah Swapraja tetap dijabat oleh I Gusti Ngurah Ketut ( dari Puri Mecutan Tabanan ), kemudian Beliau dilantik / disumpah di Pura Besakih pada Hari Raya Galungan tanggal 29 Juli 1938 dan Mabiseka Ratu bergelar Cokorda Ngurah Ketut, dilihat dari urutan Raja Tabanan, beliau adalah Raja Tabanan ke XXII 1938 s/d 1944.
Berputra :
1. I Gusti Ngurah Gede
2. I Gusti Ngurah Alit Putra
3. I Gusti Ngurah Raka
4. Sagung Mas
5. I Gusti Ngurah Agung
selanjutnya digantikan oleh putra sulungnya bernama I Gusti Ngurah Gede , bergelar Cokorda Ngurah Gede .

XXIII. Cokorda Ngurah Gede, Raja Tabanan ke XXIII (Maret 1947 s/d 1986)
Selanjutnya I Gusti Ngurah Gede, putera sulung Cokorda Ngurah Ketut menjadi Cokorda Tabanan, bergelar Cokorda Ngurah Gede, Raja Tabanan XXIII Maret 1947 s/d 1986 dan beliau menjabat Bupati Tabanan Pertama tahun 1950, tempat tinggal Beliau disebut Puri Gede / Puri Agung Tabanan / Puri Pemecutan Tabanan.
Beliau berputra :
1. Sagung Putri Sartika
2. I Gusti Ngurah Bagus Hartawan
3. Sagung Putra Sardini
4. I Gusti Ngurah Alit Darmawan
5. Sagung Ayu Ratnamurni
6. Sagung Jegeg Ratnaningsih
7. I Gusti Ngurah Agung Dharmasetiawan
8. Sagung Ratnaningrat
9. I Gusti Ngurah Rupawan
10. I Gusti Ngurah Putra Wartawan
11. I Gusti Ngurah Alit Aryawan
12. Sagung Putri Ratnawati
13. I Gusti Ngurah Bagus Grastawan
14. I Gusti Ngurah Mayun Mulyawan
15. Sagung Rai Mayawati
16. Sagung Anom Mayadwipa
17. Sagung Oka Mayapada
18. I Gusti Ngurah Raka Heryawan
19. I Gusti Ngurah Bagus Rudi Hermawan
20. I Gusti Ngurah Bagus Indrawan
21. Sagung Jegeg Mayadianti
22. I Gusti Ngurah Adi Suartawan.
Selanjutnya digantikan oleh I Gusti Ngurah Rupawan , Mabiseka Ratu 21 Maret 2008 bergelar Cokorda Anglurah Tabanan .

XXIV. Cokorda Anglurah Tabanan Raja Tabanan ke XXIV (2008-….)
Dari tanggal 21 Maret 2008
Cokorda Anglurah Tabanan berputera :
1. Sagung Manik Vera Yuliawati
2. I Gusti Ngurah Agung Joni Wirawan
3. Sagung Inten Nismayani

Arya Kenceng

Arya Kenceng(Sumber :Wikipedia)
Arya Kenceng adalah seorang kesatria dari Majapahit yang turut serta dalam ekspedisi penaklukan Bali bersama Mahapatih Gajah Mada. Banyak versi mengenai keberadaan Arya Kenceng, dalam beberapa babad, misalnya Babad Arya Tabanan, dinyatakan bahwa Arya Kenceng adalah adik dari Arya Damar, yang lain mencatat Arya Kenceng identik dengan Arya Damar, dan beberapa naskah lontar menyatakan beliau adalah anak dari Arya Damar.

Daftar isi
1 Sejarah
1.1 Datang di Bali
1.2 Keturunan/Pratisentana Arya Kenceng[4]:
2 Catatan kaki
3 Sumber

Sejarah
Pada tahun Isaka 1203 (1281 M) dari negeri Cina datang dua orang putri Raja Ming/Miao Li yang dikenal dengan Mauliwarma Dewa keturunan Thong (Raja Miao Ciang)/Raja Li, Kerajaan Ming artinya Sinar/Surya,wilayah Cina waktu itu Campa/Melayu, Singapura atau Temasek hingga laut Cina Selatan (Nan Hay). Belakangan berhasil di satukan Madjapahit dan Cina di kuasai dinasty Cing/Ming karena Mongol/Khan sudah runtuh, makanya kita disebut bangsa “Indo-Cina” yang jadi cikal bakal bangsa Indonesia.jadi orang yang tinggal di daratan Cina hingga ujung selatan (Melayu) disebut orang Indo-Cina. Daratan Cina ke utara bernama “Mantjupai”. Madjapahit pun simbolnya Surya/Sinar, sedangkan simbol Raja adalah Macan putih. Dua Putri Raja Ming/Miao LI tersebut datang lengkap dengan dayang-dayang, pengawal,para suhu dan lain-lain, kedua putri tersebut adalah “Dara Jingga” dan adiknya “Dara Petak” (Putih), keadatangan Putri Cina ini pada zaman Kerajaan Singhasari yaitu pada masa pemerintahan Sri Kerthanegara/Bathara Siwa tahun isaka 1190-1214 atau tahun (1268-1292 Masehi).
Putri Dara Petak bergelar “Maheswari” diperistri oleh Sri Jayabaya atau Prabu Brawijaya I/Bhre Wijaya/Raden Wijaya, Raja Madjapahit pertama yang juga bergelar “Sri Kertha Rajasa Jaya Wisnu Wardana” pada tahun isaka 1216-1231 atau tahun (1294-1309 Masehi) yang selanjutnya menurunkan Prethi Santana/keturunan bernama “Kala Gemet” yang menjadi Raja Madjapahit kedua pada tahun 1309-1328 M, yang bergelar “Jaya Negara”. Sedangkan Putri Dara Jingga yang bergelar Indreswari atau Li Yu Lan atau Sri Tinuhanengpura (yang dituakan di Pura Singosari dan Madjapahit) diperistri oleh Sri Jayasabha yang bergelar Sri Wilatikta Brahmaraja I atau Hyang Wisesa. Gelar Li adalah dari Raja Tong “Li Ti” (Li Wang Ti) yang mengirim Putri Macan Putih ke Kahuripan, Sri Jayasabha adalah pembesar Singosari dengan pangkat “Maha Menteri”. Putri Dara Jingga dalam lontar dikenal, yang berbunyi: Dara Jingga arabi Dewa Sang Bathara Adwaya Brahma yang selanjutnya menurunkan putra sebanyak enam orang laki-laki yaitu: Sri Cakradara, Arya Dhamar (yang disebut juga dengan Arya Teja alias Kiyayi Nala atau Adityawarman), Arya Kenceng, Arya Kuthawaringin, Arya Sentong dan Arya Pudak yang kemudian menjadi Penguasa/Raja Di Bali [1].
Dilihat dari silsilah (keturunan), Beliau adalah keturunan dari Sri Airlangga, pendiri Kerajaan Kahuripan dan Sri Airlangga adalah putra Sri Udayana Warmadewa, keturunan dari Sri Kesari Warmadewa (Sri Wira Dalem Kesari) raja kerajaan Singhamandawa (Singhadwala) Bali.
Datang di Bali
Pada tahun 1342, pasukan perang Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Gajah Mada selaku Panglima Perang Tertinggi, dibantu oleh Wakil Panglima Perang yang bernama Arya Damar, serta beberapa Perwira antara lain, Arya Kenceng, Arya Sentong, Arya Belog, Arya Kanuruhan, Arya Bleteng, Arya Pengalasan dan Adipati Takung, menyerang Kerajaan Bedulu di Bali. Dalam penyerangannya dibagi:
Induk pasukan dipimpin oleh Gajah Mada, penyerbuan dan pendaratan dipantai Timur Pulau Bali.
Arya Damar dengan kekuatan 20.000 orang tentara Palembang mengadakan pendaratan dipantai Utara Pulau Bali.
Tentara Sunda (Jawa Barat) yang berjumlah 20.000 orang, dipimpin oleh Adipati Takung dengan dibantu oleh tentara bawahan bernama Lagut, mengadakan pendaratan dipantai Barat Pulau Bali.
Pendaratan dipantai Bali Selatan, dilakukan serentak oleh 6 Perwira, masing-masing dibawah pimpinan: Arya Kenceng, Arya Sentong, Arya Bleteng, Arya Belog, Arya Pengalasan dan Arya Kanuruhan. Mereka masing-masing memimpin lebih kurang 15.000 orang[2].
Setelah Kerajaan Bedulu ditaklukan, oleh raja Kerajaan Majapahit Ratu Tribhuwana Tungga Dewi, Selanjutnya Gajah Mada membagi daerah kekuasaan kepada beberapa Arya, salah satunya Arya Kenceng diberikan memimpin daerah Tabanan yang Kerajaannya berada di Pucangan/Buahan Tabanan, dengan rakyat sebanyak 40.000 orang[3] dengan batas wilayah sebagai berikut:
Batas Timur: Sungai Panahan
Batas Barat: Sungai Sapwan
Batas Utara: Gunung Batukaru
Batas Selatan: Daerah Sanda, Kerambitan, Blumbang, Tanggun Titi dan Bajra
Pada tahun 1343 M beliau membuat istana disebuah desa yang bernama Desa Pucangan atau Buwahan, lengkap dengan Taman Sari di sebelah Tenggara Istana. Beliau memerintah dengan bijaksana sehingga keadaan daerah Tabanan menjadi aman sentosa.
Arya Kenceng mengambil istri putri keturunan brahmana yang bertempat tinggal di Ketepeng Reges yaitu suatu daerah di Pasuruan yang merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Arya Kenceng memperistri putri kedua dari brahmana tersebut sedangkan putri yang sulung diperistri oleh Dalem Ketut Sri Kresna Kepakisan dari Puri Samprangan dan putri yang bungsu diperistri oleh Arya Sentong.
Arya Kenceng sebagai kepala pemerintahan di daerah Tabanan bergelar Nararya Anglurah Tabanan, sangat pandai membawa diri sehingga sangat disayang oleh kakak iparnya Dalem Samprangan. Dalam mengatur pemerintahan beliau sangat bijaksana sehingga oleh Dalem Samprangan beliau diangkat menjadi Menteri Utama. Karena posisi beliau sebagai Menteri Utama, maka hampir setiap waktu beliau selalu berada disamping Dalem Samprangan. Arya Kenceng sangat diandalkan untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi oleh Dalem Samprangan, karena jasanya tersebut maka Dalem Samprangan bermaksud mengadakan pertemuan dengan semua Arya di Bali. Dalam pertemuan tersebut Dalem Samprangan menyampaikan maksud dan tujuan pertemuan tersebut tiada lain untuk memberikan penghargaan kepada Arya Kenceng atas pengabdiannya selama ini.
“Wahai dinda Arya Kenceng, demikian besar kepercayaanku kepadamu, aku sangat yakin akan pengabdianmu yang tulus dan ikhlas dan sebagai tanda terima kasihku, kini aku sampaikan wasiat utama kepada dinda dari sekarang sampai seterusnya dari anak cucu sampai buyut dinda supaya tetap saling cinta mencintai dengan keturunanku juga sampai anak cucu dan buyut. Dinda saya berikan hak untuk mengatur tinggi rendahnya kedudukan derajat kebangsawanan (catur jadma), berat ringannya denda dan hukuman yang harus diberikan pada para durjana. Dinda juga saya berikan hak untuk mengatur para Arya di Bali, siapapun tidak boleh menentang perintah dinda dan para Arya harus tunduk pada perintah dinda. Dalam tatacara pengabenan atau pembakaran jenasah (atiwatiwa) ada 3 upacara yang utama yaitu Bandhusa, Nagabanda dan wadah atau Bade bertingkat sebelas. Dinda saya ijinkan menggunakan Bade bertingkat sebelas. Selain dari pada itu sebanyak banyaknya upacara adinda berhak memakainya sebab dinda adalah keturunan kesatriya, bagaikan para dewata dibawah pengaturan Hyang Pramesti Guru. Demikianlah penghargaan yang kanda berikan kepada adinda karena pengadian dinda yang tulus sebagai Mentri utama.”
Arya Kenceng karena telah lanjut usia, akhirnya beliau wafat dan dibuatkan upacara pengabenan (palebon) susuai dengan anugrah Dalem Samprangan yaitu boleh menggunakan bade bertingkat sebelas yang diwariskan hingga saat ini. Adapun roh sucinya (Sang Hyang Dewa Pitara) dibuatkan tugu penghormatan (Peliggih) yang disebut “Batur/Batur Kawitan” dan disungsung oleh keturunan beliau hingga saat ini dan selanjutnya.

Keturunan/Pratisentana Arya Kenceng[4]:
I. Arya Kenceng, Raja Tabanan I Berputra:
1. Dewa Raka/Magada Prabu.
Beliau tidak berminat menjadi raja, melaksanakan kehidupan kepanditaan dan mengangkat 5 orang anak asuh (putra upon-upon):
Ki Bendesa Beng
Ki Guliang di Rejasa
Ki Telabah di Tuakilang
Ki Bendesa di Tajen
Ki Tegehan di Buahan
2. Dewa Made/Megada Nata

3. Kiayi Tegeh Kori Asal Wangsa Tegeh Kori. Merupakan Putra kandung dari Arya Kenceng yang beribu dari desa Tegeh di Tabanan bukan putra Dalem yang diberikan kepada Arya Kenceng, [5], Beliau membangun Kerajaan di Badung, diselatan kuburan Badung (Tegal) dengan nama Puri Tegeh Kori (sekarang bernama Gria Jro Agung Tegal), karena ada konflik di intern keluarga maka beliau meninggalkan puri di Tegal dan pindah ke Kapal. Di Kapal sempat membuat mrajan dengan nama “Mrajan Mayun” yang sama dengan nama mrajan sewaktu di Tegal, dan odalannya sama yaitu pada saat “Pagerwesi”. Dari sana para putra berpencar mencari tempat. Kini pretisentananya (keturunannya) berada di Puri Agung Tegal Tamu, Batubulan, Gianyar dan Jero Gelgel di Mengwitani(Badung), Jro Tegeh di Malkangin Tabanan, jero Batubelig di batu belig. Dan dalam babad perjalanan Kiyai Tegeh (Arya Kenceng Tegeh Kori) tidak pernah membuat istana ataupun pertapaan di Benculuk atau sekarang di sebut Tonja. Di Puri Tegeh Kori beliau berkuasa sampai generasi ke empat. Adapun putra -putra dari Arya Kenceng Tegeh Kori IV Adalah:
Kyai Anglurah Putu Agung Tegeh Kori
I Gusti Putu GelGel. Magenah ring (bertempat tinggal di): Jro Gelgel di Mengwitani Badung, Yeh Mengecir Jembrana dan Jro Tegeh di Malkangin Tabanan
I Gusti Putu Mayun. Magenah ring Jro Batu Belig,Batubelig dan Cemagi
I Gusti Ketut Mas. Magenah ring Klusa
Kyai Anglurah Made Tegeh. Magenah ring Perang Alas(Lukluk badung), Pacung (Abian semal) dan Dencarik (Buleleng)
I Gusti Nyoman Mas. Magenah ring Kutri
I Gusti Putu Sulang. Magenah ring Sulang
I Gusti Made Tegeh. Magenah ring Mambal, Sibang, Karang Dalem
I Gusti Mesataan. Magenah ring Sidemen
I Gusti Putu Tegeh. Magenah ring Lambing, Klan, Tuban
I Gusti Ketut Maguyangan. Magenah ring Desa Banyu Campah
I Gusti Gede Tegeh. Magenah ring Plasa (Kuta)
I Gusti Abyan Timbul. Magenah ring Abian Timbul
I Gusti Putu Sumerta. Magenah ring Sumerta
Kyai Anglurah Made Tegeh
Kyai Ayu Mimba/Kyai Ayu Tegeh (Beliau yang menikah Ke Kawya Pura /Puri Mengwi)
4. Nyai Tegeh Kori/Sri Menawa

II. Shri Megada Nata/Arya Yasan, Raja Tabanan ke II
Berputra:
1. Shri Arya Ngurah Langwang
2. Ki Gusti Made Utara/Madyatara, Menurunkan Kelurga Besar Jero Subamia
3. Ki Gusti Nyoman Pascima, Menurunkan Keluarga Besar Jero Pemeregan
4. Ki Gusti Wetaning Pangkung, Menurunkan Para Gusti:
1. Lod Rurung
2. Kesimpar
3. Serampingan
5. Ki Gusti Nengah Samping Boni, Menurunkan Para Gusti:
1. Kiayi Titih
2. Kiayi Ersani, Menurunkan Kelurga Besar “Jero Ersania”(Dauh Pangkung Tabanan)
3. Kiayi Nengah
4. Kiayi Den Ayung (Putung)
6. Ki Gusti Batan Ancak, Menurunkan Para Gusti:
1. Ancak, Pindah ke Desa Nambangan Badung, sebagai pendamping Kiayi Ketut Pucangan (Sirarya Notor Wandira)
2. Angglikan
7. Ki Gusti Ketut Lebah
8. Kiayi Ketut Pucangan/Sirarya Notor Wandira, Menjadi Raja di Badung, Selanjutnya Menurunkan Raja-Raja dan Pratisentana Arya Kenceng di Badung

III. Shri Arya Ngurah Langwang, Raja Tabanan ke III
Beliau memindahkan Kerajaan beserta Batur Kawitannya dari Pucangan ke Puri Agung Tabanan dan semenjak itu pula Arya Ngurah Langwang, saudara-saudaranya (Ki Gusti Made Utara, Ki Gusti Nyoman Pascima dan Ki Gusti Wetaning Pangkung) dan seketurunannya berpura kawitan di Pura Batur di Puri Singasana Tabanan (Puri Agung Tabanan ). Sedangkan bekas lahan Pura Batur di Buahan/Pucangan, diserahkan penggunaannya kepada putra upon-upon Ki Tegehan di Buahan.
Beliau berputra:
1. Ki Gusti Ngurah Tabanan
2. Ki Gusti Lod Carik, Menurunkan Para Gusti Lod Carik
3. Ki Gusti Dangin Pasar, Menurunkan Para Gusti:
1. Suna
2. Munang
3 Batur
4. Ki Gusti Dangin Margi, Menurunkan Para Gusti:
1. Ki Gusti Blambangan
2. Ki Gusti Jong
3. Ki Gusti Mangrawos di Kesiut Kawan
4. Ki Gusti Mangpagla di Timpag

IV. Ki Gusti Ngurah Tabanan/Prabu Winalwan/Betara Mekules, Raja Tabanan ke IV dan ke VII
Berputra:
1. Ki Gusti Wayan Pamedekan
2. Ki Gusti Made Pamedekan
3. Ki Gusti Bola Raja Tabanan ke X, Menurunkan Ki Gusti Tembuku
4. Ki Gusti Made, Menurunkan Para Gusti Punahan
5. Ki Gusti Wongaya, Menurunkan Para Gusti Wongaya (Jero Wongaya Tabanan)
6. Ki Gusti Kukuh, Menurunkan Para Gusti Kukuh (Jero Kukuh Denbatas dan Jero Kukuh Delodrurung)
7. Ki Gusti Kajanan, Menurunkan Para Gusti: 1. Kajanan, 2. Ombak dan 3. Pringga
8. Ki Gusti Brengos (SiraArya Branjingan/SiraArya Sakti Abiantimbul, Dgn memperistri Ni Gusti Ayu Batan Ancak (Puri Ancak Tabanan) Menurunkan Para Gusti Abiantimbul Intaran (Jero Gede Abiantimbul Intaran Sanur, Jero Gulingan Intaran Sanur, Jero Semawang Intaran Sanur)
Pura Batur Wanasari di Wanasari Tabanan
9. Ni Gusti Luh Kukuh
10. Ni Gusti Luh Kukub
11. Ni Gusti Tanjung
12. Ni Gusti Luh Tangkas
13. Ni Gusti Luh Ketut
Stana/Pelinggih Beliau berada di Pura Batur Wanasari di Wanasari Tabanan. Piodalannya pada Anggarkasih Dukut (Selasa Kliwon Dukut).

V. Ki Gusti Wayahan Pamadekan, Raja Tabanan V
Berputra:
1. Ki Gusti Nengah Mal Kangin, Raja Tabanan ke IX
2 & 3. (Dua) Orang Wanita
4. Raden Tumenggung, Putra yang lahir di Mataram, setelah Ki Gusti Wayahan Pamedekan ditangkap dalam perang dengan Mataram, dan diangkat sebagai mantu oleh Raja Mataram

VI. Ki Gusti Made Pamedekan, Raja Tabanan ke VI
Berputra:
1. Sirarya Ngurah Tabanan
2. Ki Gusti Made Dalang, Raja Tabanan ke IX
3. Ni Gusti Luh Tabanan

VII. Sirarya Ngurah Tabanan (Betara Nisweng Penida), Raja Tabanan ke VIII
Berputra:
1. Ni Gusti Luh Kepaon
2. Ni Gusti Ayu Rai
3. Ki Gusti Alit Dawuh

VIII. Ki Gusti Alit Dawuh/Sri Megada Sakti, Raja Tabanan ke XI
Berputra:
1. Putra Sulung (tidak disebutkan namanya)
2. I Gusti Made Dawuh/Ida Cokorda Dawuh Pala berputra:
1. I Gusti Lanang
2. I Gusti Kandel
3. Ni Gusti Luh Selingsing
4. Ni Gusti Luh Tatadan Menikah dengan seorang Brahmana di Griya Pasekan
5. Ni Gusti Luh Sasadan
3. Gusti Ngurah Nyoman Telabah berputra:
1. Ki Gusti Blumbang
2. Ki Gusti Pande
3. Ni Gusti Luh Nade
4. Kiayi Jegu berputra Ki Gusti Cangeh
5. Kiayi Krasan berputra:
1. Ki Gusti Subamia
2. Ki Gusti Bengkel
3. Ni Gusti Luh Sembung
4. Ni Gusti Luh Sempidi
5. Ni Gusti Luh Wayahan Tegal Tamu
6. Kiayi Oka berputra:
1. Ki Gusti Wongaya
2. Ki Gusti Gede Oka
3. Ki Gusti Pangkung
4. Ki Gusti Ketut
5. Ki Gusti Batan
7. Ni Gusti Ayu Muter
8. Ni Gusti Ayu Subamia beribu dari Jero Subamia, selanjutnya kawin dengan I Gusti Pemecutan Sakti di Badung
9. Ni Gusti Luh Dangin
10. Ni Gusti Luh Abian Tubuh Menikah dengan Ki Gusti Padang, putra dari Ki Gusti Ngurah Panji Sakti (Raja Buleleng)
11. Ni Gusti Luh Mal Kangin Menikah dengan seorang Brahmana di Griya Dangin Carik
12. Ni Gusti Luh Puseh
13. Ni Gusti Luh Bakas
Pada waktu pemerintahan Ki Gusti Alit Dawuh (Sri Megada Sakti), di Bendana Badung keturunan dari Ki Gusti Batan Ancak yang bernama Ki Gusti Nyoman Kelod tidak memproleh kedudukan di Badung, beliau kembali lagi ke Tabanan untuk kemudian dititahkan oleh raja Sri Megada Sakti bermukim di desa Pandak, sebagai penguasa daerah pantai batas kerajaan.

IX. Putra Sulung Sri Megada Sakti/Ida Cokorda Tabanan/Ratu Lepas Pemade, Raja Tabanan ke XII,
Berputra:
1. Ki Gusti Ngurah Sekar
2. Ki Gusti Ngurah Gede/Cokorda I Gusti Ngurah Gede Banjar Membangun Puri Gede/Agung Kerambitan Selanjutkan menurunkan Puri/Jero dan Pratisentana Arya Kenceng di Kerambitan.
3. Ki Gusti Sari di Wanasari
4. Ki Gusti Pandak di Pandak Bandung
5. Ki Gusti Pucangan di Buahan
6. Ki Gusti Rejasa di Rejasa
7. Ki Gusti Bongan di Bongan Kauh
8. Ki Gusti Sangihan dan Ki Gusti Den di Banjar Ambengan
9. Ni Gusti Luh Dalam Indung
10. Ni Gusti Luh Perean
11. Ni Gusti Luh Kuwum
12. Ni Gusti Luh Beraban, Menikah dengan seorang Brahmana dari Griya Selemadeg Tabanan, melahirkan Putra yang kemudian membangun Griya Beraban. Mempunyai tugas khusus mengatur segala upacara/upakara bebantenan di Puri Agung Tabanan.

X. Ki Gusti Ngurah Sekar (Cokorda Sekar), Raja Tabanan ke XIII,
Berputra lahir dari Permaisuri dari Jero Subamia:
1. Ki Gusti Ngurah Gede
2. Ki Gusti Ngurah Made Rai, (sebagai Maha Ratu Pemade tinggal di Puri Kaleran, saat kakaknya Ki Gusti Ngurah Gede jadi Raja Tabanan)
3. Ki Gusti Ngurah Rai (Cokorda Penebel), Raja Tabanan ke XVII berpuri di Penebel, berputra:
1. Ki Gusti Made Tabanan/Ki Gusti Ngurah Ubung Raja Tabanan ke XVIII
2. Ni Sagung Wayahan
3. Ni Sagung Made
4. Ni Sagung Ketut
5. Kiayi Kekeran
6. Kiayi Made
7. Kiayi Pangkung
8. Kiayi Dauh
9. Seorang Putri yang menikah dengan Kiayi Buruan
10. Kiayi Kandel berputra Ki Gusti Made Kerambitan, Menurunkan Keluarga Besar Jero Kerambitan.
4. Ki Gusti Ngurah Anom, Membangun Puri Mas, berputra:
1. Ki Gusti Mas
2. Ki Gusti Made Sekar
3. Kiayi Pasekan
4. Kiayi Pandak
5. Ni Sagung Alit Tegeh
Lahir dari Ibu Penawing:
5. Ni Gusti Luh Kandel
6. Ni Gusti Luh Kebon

XI. Ki Gusti Ngurah Gede (Cokorda Gede Ratu), Raja Tabanan ke XIV,
Berputra:
1. Ki Gusti Nengah Timpag
2. Ki Gusti Sambian
3. Ki Gusti Ketut Celuk

XII. Ki Gusti Ngurah Made Rai/Cokorda Made Rai, Raja Tabanan ke XV,
Berputra:
A. Dari Permaisuri bernama Ni Sagung Alit Tegal, putri dari Cokorda Ki Gusti Ngurah Gede Banjar Puri Gede Kerambitan melahirkan putra:
1. Ki Gusti Agung Gede
2. Ki Gusti Ngurah Nyoman Panji berputra:
1. Ki Gusti Ngurah Agung, Beribuk dari Puri Gede Kerambitan, putri dari Cokorda Gede Selingsing
2. Ki Gusti Ngurah Demung (Ida Betara Madewa di Puri Kaleran) Beribuk dari Demung
3. Ki Gusti Ngurah Celuk, Beribuk dari Celuk dan Membangun Puri Kediri
B. Dari Istri Penawing
3. Ni Sagung Ayu Made
4. Ni Sagung Ayu Ketut
5. Kiayi Nengah Perean, berputra:
1.Kiayi Pangkung, berputra:
1. Ki Gusti Wayahan Kompyang -> Menurunkan Jero Kompyang
2. Ki Gusti Made Oka, Menurunkan Jero Oka
6. Kiayi Buruan Raja Tabanan ke XVI
7. Kiayi Banjar
8. Kiayi Tegeh
9. Kiayi Beng berputra Ki Gusti Wayahan Beng, Jero Beng, Jero Beng Kawan dan Jero Putu.

XIII. Ki Gusti Ngurah Agung (Ratu Singasana), Raja Tabanan ke XIX,
Berputra:
1. Sirarya Ngurah Tabanan, beribu Ni Sagung Wayan, putri dari Agung Ketut Jero Aseman Kerambitan.
2. Ki Gusti Ngurah Gede Banjar, beribu Ni Sagung Ayu Ngurah, putri dari Cokorda Made Penarukan, Puri Gede Kerambitan, Membangun Puri Anom Tabanan, bermukim di Saren Kangin Puri Anom Tabanan
3. Ki Gusti Ngurah Nyoman, Membangun Puri Anom Tabanan, bermukim di Saren Kawuh (sekarang disebut Saren Tengah) Puri AnomTabanan
4. Ki Gusti Ngurah Made Penarukan, Membangun Puri Anyar Tabanan
5. Sirarya Ngurah, Diperas oleh Ki Gusti Ngurah Demung (Ki Gusti Ngurah Made Kaleran)
6. Ki Gusti Ngurah Rai, Diperas oleh Ki Gusti Ngurah Demung, setelah Sirarya Ngurah Wafat tanpa keturunan.
7. Ni Sagung Ayu Gede
8. Ni Sagung Ayu Rai

XIV. Sirarya Ngurah Tabanan (Betara Ngeluhur), Raja Tabanan ke XX, bertahta tahun 1868 – 1903
Berputra:
1. Sirarya Ngurah Agung
2. Ki Gusti Ngurah Gede Mas
3. Arya Ngurah Alit Senapahan
4. Ki Gusti Ngurah Rai Perang, Membangun Puri Dangin Tabanan, Beribu Ni Gusti Ayu, keturunan Gusti Delod Rurung
5. Ki Gusi Nyoman Pangkung, Membangun Puri Dangin Tabanan
6. Ki Gusti Ngurah Made Batan, Membangun Puri Dangin Tabanan
7. Ki Gusti Ngurah Gede Marga -> Membangun Puri Denpasar Tabanan
8. I Gusti Ngurah Putu. Membangun Puri Pemecutan Tabanan, berputra:
1. I Gusti Ngurah Wayan
2. I Gusti Ngurah Made, berputra:
1. I Gusti Ngurah Gede
2. I Gusti Ngurah Mayun
3.. Sagung Nyoman
4. I Gusti Ngurah Ketut
5. Sagung Rai
6. Sagung Ketut, Kawin ke Jero Kompyang
9. Sagung Istri Ngurah
10. Ni Sagung Ayu Wah, Memimpin Pebalikan Wongaya, Perang melawan penjajah Belanda tanggal 27 November 1906

XV. Ki Gusti Ngurah Rai Perang (Cokorda Rai) Raja Tabanan ke XXI Tahun 1903 – 1906
Tewas muput raga di denpasar pada tahun 1906, sesaat setelah Puputan Badung
Berputra:
Yang ikut masuk ke Puri Singasana/Agung Tabanan:
1. I Gusti Ngurah Gede Pegeg (sebagai putra mahkota), Tewas muput raga di Denpasar pada tahun 1906 sebelum naik tahta
2. Ni Sagung Ayu Oka, pindah ke Puri Anom Tabanan dan menikah dengan Kramer, clerk controlir Belanda
3. Ni Sagung Ayu Putu Galuh, pindah ke Puri Anom Tabanan, menikah dengan Ki Gusti Ngurah Anom, Puri Anom Saren Taman (Saren Kauh Sekarang)
Ki Gusti Ngurah Rai Perang/Ida Cokorda Rai (Raja Tabanan XXI) juga mempunyai putera dari istri yang lainnya dan tetap tinggal di Puri Dangin Tabanan[6], sebaga berikut:
1. I Gusti Ngurah Anom (Tinggal di Puri Dangin), berputra:
1. I Gusti Ngurah Ketut
2. I Gusti Ngurah Alit
3. I Gusti Ngurah Made
4. Sagung Oka (Kawin ke Puri Anom)
5. Sagung Nyoman (Kawin ke Jro Oka di Jegu)
6. I Gusti Ngurah Gde Wisadnya
7. I Gusti Ngurah Agung
2. I Gusti Ngurah Putu Konol (Tinggal di Puri Dangin Tabanan di Jegu), berputra:
1. I Gusti Ngurah Oka
2. I Gusti Ngurah Gde Sasak
3. Sagung Putri
4. Sagung Putra (Kawin ke Puri Dangin Tabanan)
5. Sagung Oka (Kawin ke Puri Pemecutan /Gede /Agung Tabanan)
3. Ni Sagung Made.

XVI. Ki Gusti Ngurah Ketut (Cokorda Ngurah Ketut), Raja Tabanan ke XXII dari 29 Juli 1938 – ….
Berputra:
1. I Gusti Ngurah Gede, beribu dari Puri Denpasar Tabanan
2. I Gusti Ngurah Alit Putra, beribu Gusti Siluh Biang Resi
3. I Gusti Ngurah Raka, beribu Mekel Merta
4. Sagung Mas, beribu Sagung Istri Oka dari Puri Kediri Tabanan
5. I Gusti Ngurah Agung, beribu Sagung Istri Oka dari Puri Kediri Tabanan

XVII. I Gusti Ngurah Gede (Cokorda Ngurah Gede), Raja Tabanan ke XXIII dari Maret 1947 – 1986
Berputra:
1. Sagung Putri Sartika
2. I Gusti Ngurah Bagus Hartawan
3. Sagung Putra Sardini
4. I Gusti Ngurah Alit Darmawan
5. Sagung Ayu Ratnamurni
6. Sagung Jegeg Ratnaningsih
7. I Gusti Ngurah Agung Dharmasetiawan
8. Sagung Ratnaningrat
9. I Gusti Ngurah Rupawan
10. I Gusti Ngurah Putra Wartawan
11. I Gusti Ngurah Alit Aryawan
12. Sagung Putri Ratnawati
13. I Gusti Ngurah Bagus Grastawan
14. I Gusti Ngurah Mayun Mulyawan
15. Sagung Rai Mayawati
16. Sagung Anom Mayadwipa
17. Sagung Oka Mayapada
18.’ I Gusti Ngurah Raka Heryawan
19. I Gusti Ngurah Bagus Rudi Hermawan
20. I Gusti Ngurah Bagus Indrawan
21. Sagung Jegeg Mayadianti
22. I Gusti Ngurah Adi Suartawan.

XVIII. I Gusti Ngurah Rupawan (Ida Cokorda Anglurah Tabanan), Raja Tabanan ke XXIV dari 21 Maret 2008
Cokorda Anglurah Tabanan berputera:
1. Sagung Manik Vera Yuliawati
2. I Gusti Ngurah Agung Joni Wirawan
3. Sagung Inten Nismayani

Catatan kaki
^ (Indonesia)http://www.majapahit-masakini.co.cc/2009/04/sejarah-ibu-majapahit-nusantara.html
^ Buku “Riwayat Pulau Bali Dari Dzaman Ke Dzaman”, Disusun oleh: I Made Subaga, Gianyar – Bali
^ Babad Arya Tabanan, Kantor Dokumentasi Budaya Bali Propinsi Daerah Tingkat I Bali, Denpasar, 1997
^ Prasasti dan Silsilah (Keturunan) Arya Kenceng yang tersimpan
^ babad versi Benculuk Tegeh Kori atau http://bali.stitidharma.org/babad-arya-tegeh-kuri/ dan http: // singaraja.wordpress.com
^ Prasasti dan Silsilah (Keturunan) Arya Kenceng yang tersimpan di

Sumber
Prasasti dan Silsilah (Keturunan) Arya Kenceng yang tersimpan di: Puri Agung Tabanan, Puri Gede Krambitan, Puri Anom Tabanan, Puri Dangin Tabanan di Jegu.
BABAD ARYA TABANAN, KANTOR DOKUMENTASI BUDAYA BALI PROPINSI DAERAH TINGKAT I BALI, DENPASAR, 1997
Artikel-Artikel yang bersumber dari Lontar-Lontar yang dimiliki Keluarga Puri Tabanan
Buku “Riwayat Pulau Bali Dari Djaman Ke Djaman”, Disusun oleh: I Made Subaga, Gianyar – Bali
Babad Arya Tabanan Wikipedia,http://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Kenceng#Sejarah